Tampilkan postingan dengan label about me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label about me. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2015

Perempuan itu Harus Tetap di Rumah ?

Tadi pagi, ada seorang teman yang bercerita tentang dirinya yang dikirimi dengan nasihat bahwa perempuan harus di rumah. Rasanya banyak orang yang menganggap bahwa perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ia tidak bertanggung jawab terhadap nafkah keluarganya. Maka dia lebih baik di rumah sesuai dengan kodratnya.


Jangan hanya melihat dari satu sisi, lihatlah sisi baiknya ketika perempuan memilih untuk bekerja di luar rumah. Tidak bermaksud menyalakan, namun saya akan mengajak berfikir bahwa perempuan bekerja pun tidak salah.

Tidak ada perbedaan

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

Dan katakanlah : Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang - orang mukmin...” (QS. At-Taubah:105).
Allah tidak membeda - bedakan laki - laki dan perempuan untuk bekerja. Dari ayat diatas, setiap laki - laki dan perempuan diperbolehkan untuk bekerja. Sebagian mengartikan itu adalah perbuatan aman, pekerjaan amal. Niatkanlah bekerja hanya untuk ridho dan rahmat Allah. Bukankah pekerjaan tersebut akan menjadi amal??.

Tahu kah kalian bahwa instansi - instansi yang menyediakan pekerjaan, kebanyakan posisi strategisnya dipegang oleh orang - orang yang tidak perduli dengan agamamu, atau bahkan lebih parah lagi mereka adalah musuh agamamu. Semakin lama mereka akan semakin mempersulit ibadah - ibadah orang orang muslim di dalamnya. Bayangkan ketika kita masuk ke instansi tersebut dan kita bisa berdakwah, kalau bisa kita yang menempati posisi strategis tersebut, hingga sistem di dalamnya berjalan lebih islami.

Masalah selanjutnya laki - laki mestinya akan sulit mendekati dan berdakwah pada lawan jenisnya. Bukankah lebih mudah jika kita yang berdakwah? Sesama perempuan justru akan lebih mudah dekat, dari sana banyak sekali ladang dakwah yang sering orang abaikan.

Perempuan tidak boleh keluar rumah?

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang - orang jahiliyah... ” (Q.S. Al-Ahzab: 33)

Terjemah dari ayat di atas belum menjadi kesepakatan utuh semua ulama, karena justru sebagian ulama lainnya dalam hal ini lebih berpegang kaidah sebaliknya; al-ibrotu bikhusus as-sabab la biumum al-lafzh; bahwa sebab yang khusus harus lebih diambil ketimbang keumuman lafazh. Namun diluar itu semua para ulama menyepakati bahwa perintah untuk berdiam diri di rumah itu bukan harga mati tanpa adanya pengecualian. Karena potongan ayat berikutnya memberikan kepada kita isyarat bahwa bahwa istri-istri nabi dan perempuan lainnya pun boleh keluar rumah. Buktinya istri - istri nabi dan para sahabat ada yang keluar untuk berdagang bahkan ada yang ikut berperang.

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”

Hal tersebut tidak mutlak melainkan Allah memberikan syarat jika perempuan keluar rumah, maka mereka harus menjaga diri dengan tidak berhias dan bertingkah laku seperti orang - orang jahiliyah.

Kata tabarruj yang dimaksud adalah berhias yang berlebihan di luar rumah. Jika para perempuan itu berhias didalam rumah untuk suaminya, bahkan berlebihan sekalipun masih dibolehkan. Llau mekai wewangian berlebihan ketika di luar rumah. Wanita dilarang untuk mekai wewangian berlebihan sehingga ketika ia berjalan tercium wanginya. Tetapi jika dilakukan dirumah itu diperbolehkan. Jadi dari potongan ayat ini bisa kita pahami bahwa berdiam diri di rumah itu bukan tanpa pengecualian, namun ternyata para perempuan itu boleh keluar dari rumahnya jika ada kebutuhan yang penting dan keluar rumahnya dengan memperhatikan adab - adab keluar rumah, dan ini yang diungkap oleh ulama-ulama tafsir kita dalam banyak kitab mereka.

Apalagi sekarang ini kaum perempuan harus siap keluar rumah untuk kebutuhan pendidikan mereka, dan ini dinilai menjadi kebutuhan yang paling penting yang harus diusahakan tercapai, bahwa kaum perempuan harus cerdas dan berilmu pengetahuan. Bukankah kita sebagai perempuan dituntut harus cerdas dan berpendidikan untuk menjadi madrasah bagi anak - anak kita?.

Kodrat perempuan adalah menjadi ibu rumah tangga

Tidak ada yang menyangkal bahwa perempuan mempunyai tanggung jawab pada anak - anak dan suaminya. Tugas yang berada dipundaknya tidak lain adalah menjadi madrasah pertama bagi anak - anaknya dan tidak menitipkannya pada seorang assistant rumah tangga. Menghidupkan rumah dengan keceriaan, kasih sayang dan mengatur segala keperluan di rumahnya.

Dewasa ini sudah banyak cara untuk memecahkan persoalan ini. Walau para perempuan terpaksa meminta bantuan kepada assistant rumah tangga, tetap anak menjadi prioritas utama bagi ibu, tidak menyerahkannya kepada orang lain. Bahkan saya mempunyai beberapa kisah dimana working mom masih bisa mengurus semuanya sendiri tanpa bantuan siapapun.

Bisa kan bekerja namun tetap di rumah?

Jawabnya, ya sangat bisa. Tapi ini adalah sebuah pilihan bagi seseorang. Bahkan Allah sudah mengatakannya di surah Al isra ayat 84.

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS. Al -Isra :84)

Tidak semua orang Allah berikan kelebihan untuk pandai berdagang. Tidak semua orang Allah berikan kelebihan untuk dapat mengajar dan menjadi ustadzah di pengajian pengajian. Allah menurunkan potensi yang berbeda - beda pada makhluknya. Dan dari ayat diatas, kita diperintahkan untuk berbuat sesuai dengan keadaannya masing - masing. Ketika kita mempunyai keadaan dimana potensi kita hanya bekerja di luar rumah, salahkah kita tetap berikhtiar? bukankah bekerja di kantor pun tetap di katakan ikhtiar?

Maka Allah pun tidak pernah melarang ikhtiar apapun dari seorang hambanya. :)

Rabu, 01 Juli 2015

Realita = Idealisme

Terkadang kita harus mengedepankan idealisme kita apabila kita menghadapi sesuatu yang salah. Apapun risikonya. Tapi terkadang kita harus berdamai dengan kenyataan bahwa idealisme kita harus berkompromi dengan realita yang ada.

Kita harus berkompromi dan beradaptasi dengan realita yang ada. Ya, karena tidak mungkin kita mengharuskan (dengan kata lain mengontrol) orang lain selalu mengikuti kemauan kita. Tetapi kita dapat dengan penuh mengontrol diri kita sendiri.

Apabila kita memasuki suatu sistem, kita harus mengikutinya. Mungkin kadang kala kita tidak menyetujui sistem tersebut, namun bersabarlah dan ubah sistem tersebut perlahan dan dari dalam. sehingga semua orang setuju dengan sistem yang kita inginkan. Bukan memusuhi sistem tersebut.

Mencoba berdamai itu sulit, Mencoba berteman dengan keadaan itu pun sangat sulit. Tetapi mencoba mengenal dan perlahan mendekat itu tidak ada salahnya. Jangan merusak hidupmu dengan menjauhkan diri dan menjadi apatis. menjadi Idealis bukan berarti tampa kompromi dengan kenyataan, tetapi jangan lupakan dan hancurkan idealisme tersebut, karena idealisme adalah benteng kita.

Senin, 20 Januari 2014

Friends


Tiba-tiba teringat sahabat-sahabatku yang selalu ada.. selalu memberikan warna.. merah, jingga, hijau, biru, kelabu.. selalu memberikan rasa.. asam, manis, pahit, getir.. selalu memberikan semangat..
Mari saya perkenalkan satu-satu temen unik.. yang menemani saya selama saya kuliah.. :)


Ada yang hobinya ngeplakin kepala, sombongnya nauzubillah, menurut survey dari satu orang katanya dia berasa pinter dan lulus cepet (red : padahal sama lamanya).. piss..
Tapi baiknya juga nauzubilah (tapi kadang-kadang).. hehehehe.. dia menyebut dirinya sendiri "the extra ordinary girl"...

Ada yang gila, yang ngerasa banget kalau dia cowo paling cool dan paling ganteng (gangguan telinga).. "katanya" banyak cewe yang suka karena peletnya ada di kawat gigi.. kawat giginya di lepas?? ok let see, fansnya ilang apa gak.. :)
Menurut komentar dibawah, dia adalah cowok paling galauan, sedikit sedikit galau, sedikit sedikit galau.. paling lucu adalah dia yang bikin orang lain galau, ternyata dia yang galau akut.. hehehhe xp

Ada yang spesial.. :p
yang ini pokoknya spesial, bisa bikin ketawa ketawa sendiri, nangis tiba-tiba, kesel mendadak, kangen setengah idup (Red : bukan setengah mati, biar positif tulisannya), dan bikin pengen mimpi terus (kaya obat tidur)..

Kedua sahabatku dari SMA..
paling awet, paling gila, paling stupidity.. dan paling susah ketemu.. mau ketemu mereka kayak mau ketemu ibu negara yang janjiannya harus enam bulan sebelumnya, itu aja kalau gak lupa (satunya sok sibuk, yang satunya pelupa).. berarti gak salah kan kalau nama "geng" kita stupidity.. :)

Ada yang paling muda, sebut aja si raja pilem.. hardisk satu tera bisa habis tinggal beberapa kilobyte, dan isinya semua adalah pilem.. -.-"
paling aneh, soalnya suka marah marah sendiri di sosmed.. padahal orang yang dimarahin aja gak baca sosmed (red : ngenes)..

Dan yang terakhir, paling galau nikah...
kalau orang belum punya kerjaan mah, nyari kerjaan, galau mau kerja dimana.. tapi dia unik.. ngitung biaya nikah, alhasil makin galau mau nikah kapan.. hahhaha.. piss.. :)

Well.. mereka semua teman-temanku.. tapi jangan anggap aku aneh karena sahabatan sama mereka yang aneh ya.. :)
Hari ini tiba-tiba teringat.. suatu saat kita akan pisah, dunia yang beda, susah ketemu, susah kontak.. udah beda kota.. dan banyak hal lainnnya yang emang karena kita udah long distance..
Tiba-tiba berasa kayak bakal kehilangan.. tapi kita tetap kita.. persahabatan ini akan tetap ada koq.. selama ada yang namanya teknologi.. :) ya kecuali kalau ada salah satu dari kita tinggal di gua.. -.-"
Love u All..

Rabu, 15 Mei 2013

Selalu Ada Pelajaran

Saya merasa sedikit tertegur oleh bacaan-bacaan singkat malam ini, atau mungkin Allah sengaja menggerakkan tangn-tangan ini untuk membuka tulisan-tulisan tersebut? sengaja memberitahukan diri ini untuk segera membenahi diri?. Entahlah...

Saya merasa tersadar bahwa saya...

Mendapat pelajaran untuk lebih banyak bersyukur, lebih banyak lagi berbuat, lebih banyak lagi bermanfaat, mengingat saya dikelilingi oleh orang-orang hebat. Tidak perlu saya sebutkan satu persatu, tapi mereka adalah orang-orang yang hebat, yang dapat menginspirasi saya dengan kapasitas masing-masing.

Mendapatkan pelajaran bahwa kita khususnya saya adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, dimana saya tidak akan dapat hidup sendirian. Butuh teman, butuh beradaptasi, butuh tempat, butuh pengalaman, butuh pelajaran, butuh nasihat, dan orang-orang disekitar saya lah yang menyediakan itu semua. Bukan hanya orang-orang yang menyayangi saya bahkan orang-orang yang menbenci saya.

Mendapatkan pelajaran bahwa tanggung jawab bukan hanya melulu tentang kuliah. Tapi tentang bagaimana mengatur tanggung jawab-tanggung jawab lainnya yang seharusnya dapat seiring sejalan.

Mendapat pelajaran bahwa ruhiyah harus selalu ditingkatkan dan dijaga, agar nantinya berefek pada kehidupan. Ruhiyah? shalat, shadaqoh, tilawah, Shaum (puasa), dll. Berefek setidaknya untuk menjaga diri ini, mungkin jangan terlalu berharap orang lain merasakan efeknya. Setidaknya diri ini, perilaku ini, hati ini, lisan ini, hidup ini dapat dikontrol untuk lebih baik, dengan ruhiyah yang lebih baik pula.

Mendapatkan pelajaran bahwa tidak ada satu orang pun yang memiliki sifat dan karakteristik yang sama. Komunikasilah yang dapat membuat kita mengerti satu sama lain. Mengerti akan menjadikan empati. Jangan melulu tentang bagaimana orang bersikap pada kita, tapi bagaimana kita bersikap pada orang lain.

Mendapatkan pelajaran bahwa hati ini harus terus di upgrade. Jangan biarkan hati ini membeku, apalagi menghitam karena sifat dan hati yang buruk. “Jika kita merasa besar priksa hati kita mungkin hati kita sedang bengkak karna penyakit hati yang sudah parah. Jika kita merasa suci coba periksa jiwa kita mungkin itu putih karna nanah dari luka nurani kita. Jika kita merasa tinggi coba periksa batin kita mungkin ia sedang melyang kehilangan pijakan. Jika kita merasa wangi coba periksa ikhlas kita mungkin itu bau asap dari amal shalih kita yang hangus karna riya”

Mendapatkan pelajaran bahwa orang yang mempunyai masa lalu yang buruk, bukan berarti dia mempunyai masa depan yang buruk pula. Mungkin ia akan lebih memaknai hidup ini, akan lebih memandang bijak hidup ini, akan lebih berusaha membenahi diri, bahkan disaat kita sibuk berkomentar negatif tentangnya.

Mendapatkan pelajaran bahwa semuanya butuh proses, dan tidak ada yang instan. Karena sesuatu yang instan tidak akan mendatangkan manfaat lebih, bahkan hanya menimbun penyakit pada diri ini. Seperti layaknya mie instan. Karena proses akan memperkenalkan kita pada perjuangan, pertahanan, pelajaran panjang, dan sesuatu yang berujung manis.

Mendapatkan pelajaran bahwa menjadi pemimpin bukan menunjuk tapi mengayomi, bukan memerintah tapi memotifasi, bukan mendikte tapi memastikan, bukan kasar tapi tegas, bukan lembek tapi lembut, bukan mengajari tapi berbagi, bukan harus menangani masalah remeh tapi tetap memeriksa masalah yang selau dianggap remeh. Dan tidak ada satu bagianun yang sebenarnya remeh.

Dan mungkin masih banyak lagi yang harus dipelajari dalam setiap detiknya, dalam setiap kata-kata, dalam setiap peristiwa, dalam setiap langkah, dalam lingkungan tempat kita berpijak, dan dalam individu-individu disekitar kita.

Sabtu, 04 Mei 2013

Kontrol Diri


Teringat obrolan dengan seorang sahabatku beberapa waktu yang lalu. Kami membahas tentang kekuatan seseorang untuk mengontrol pikirannya dan dirinya sendiri dalam menyelesaikan masalahnya terkait dengan orang lain. Kontrol diri tersebut ditentukan oleh bagaimana pola pikir kita terhadap masalah dan sikap yang kita ambil untuk menyelesaikan masalah.
Salah satu masalah yang diangkat adalah mungkin sebagian orang akan merasa tersinggung dan jengkel apabila ada orang yang berkomentar negatif tentang kita. Apalagi jika sebuah forum sengaja dibuat untuk memberikan komentar-komentar tentang diri kita. Lalu sebagian orang akan merasa dirinya telah dihina, dicela, dan mungkin merasa nama baiknya tercemar. Stop pikiran tersebut karena pikiran-pikiran tersebut yang akan membuat hati kita merasa lelah. Yang terparah adalah akan menimbulkan blaming terhadap orang lain, dan yang terparah adalah merasa dirinya selalu menjadi korban.
Mungkin kita pernah mendengar tentang kisah Luqman yang menunggangi keledai bersama anaknya, dimana didalam perjalanan mereka selalu mendapatkan komentar yang berbeda-beda. Jangan salah persepsi dengan kisah ini, karena hikmah dari kisah ini penerapannya berbeda dengan kasus diatas. Hikmah dari kisah ini adalah, jangan kita hanya mengambil pertimbangan hanya dari komentar komentar orang lain, melainkan kita kembalikan semuanya kepada tuntunan Allah.
Ya, memang kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang yang ada disekitar kita. Tapi bukan berarti juga jika kita tidak introspeksi diri atas diri kita. Mungkin saja bukan apa yang mereka katakan atas diri kita ini adalah benar, dan mungkin butuh pengkoreksian disana. Karena semua bentuk kritik dan komentar dapat membangun diri ini menjadi pribadi yang lebih baik lagi jika kita mau menjadikan itu semua sebagai awal dari introspeksi diri.
Jangan menjadi seseorang yang berfikir bahwa orang-orang disekitar kitalah yang harus mengerti kita. jangan berfikir bahwa semua harus seperti yang kita harapkan. Karena hal yang paling sulit adalah mengubah orang lain. Karena hal yang lebih mudah dilakukan adalah bukan mengubah orang lain, bukan mengubah keadaan disekitar kita menjadi seperti yang kita inginkan, tapi yang paling mudah adalah mengontrol diri untuk mengambil sikap yang bijak. Semakin baik kontrol diri, semakin baik sikap yang akan kita ambil.
Inilah gunanya untuk mengontrol diri, kita bisa mengubah semua hal yang menyebalkan menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Kamis, 18 April 2013

Pentingkah Pendidikan?



 Merasa berdosakah ketika kita meninggalkan shalat? Merasa berdosakah ketika kita meninggalkan puasa? Jika jawabannya “Ya”, maka seharusnya kita merasa berdosa ketika kita tidak dapat memanfaatkan waktu untuk mencari ilmu. Ilmu dan pendidikan bukan hanya didapatkan dari bangku pendidikan formal. Banyak jalan menuju ilmu itu sendiri, seperti pengalaman, cerita orang lain, sebuah majelis, dan sebagainya.
Tetapi hanya ilmu yang bermanfaat yang dapat mengantarkan pemiliknya dalam keberkahan. Ilmu yang bermanfaat bukan hanya ilmu yang diajarkan di pendidikan formal, bukan hanya yang dapat mengantarkan kita pada penghidupan yang layak saja, seperti yang banyak dipikirkan orang kebanyakan saat ini. Tapi ilmu yang dapat kita bagikan, ilmu yang dapat kita terapkan, ilmu yang berguna bagi orang-orang disekitar kita dan ilmu itu dapat berupa apa saja.


Sebagai contoh, ada seseorang yang ingin merubah sifatnya yang pemarah dan tak bisa menahan emosi, bagaimana cara merubahnya?. Tentu saja dengan mencari ilmu. Karena ilmu akan merubah karakter, kebiasaan dan pola pikir dari sang pencari ilmu. Tadinya orang tersebut mudah marah, tapi setelah mencari ilmu, ia tahu bahwa ketika sedang marah ada bisikan syaithan didalamnya, dan ternyata marah itu juga mengganggu metabolisme tubuh sehingga orang yang pemarah akan lebih mudah terserang penyakit darah tinggi dan jantung. Dengan pola pikir yang baru, ia akan dapat berubah.
Contoh lain, bagaimana kita bisa dengan ikhlas dan menanamkan pada diri ini bahwa ibadah adalah kebutuhan?. Tentunya dengan ilmu, bukankah ada sebuah hadist yang mengatakan “Tidaklah sempurna agama jika tidak ada dunia” karena dunia itu ladang dan diakhiratlah kita memanen. Maka didunia ini lah kita melengkapi semua yang kita butuhkan diakhirat tentunya dengan ibadah dan ilmu.
Dan yang paling menggeitik adalah, sebuah pertanyaan “Buat apa sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya akan menjadi ibu rumah tangga?”
Jawabnya adalah karena kita perempuan, yang nantinya akan menjadi seorang ibu, seseorang yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Bukankah hak bagi anak-anak kita untuk mendapatkan sekolah pertama yang layak? sekolah pertama yang akan menjadi pondasi awal dari pemikiran pertumbuhannya.
            So, merasa berdosakah diri ini jika kita tidak mencari ilmu setiap harinya?

Tentang Teman, Teman dan Teman



Mungkin dulu pasti kita pernah mendengar nasihat dari orang-orang disekitar kita, “Jangan pernah memilih-milih teman, siapapun orangnya harus kita anggap teman” dan lain sebagainya. Jelas ini adalah paham yang berbeda. Karena dalam paham tersebut mau tidak mau pasti ditemukan banyak prasyarat pada kenyataannya. Teman dalam paham ini mungkin hanya sekedar panggilan lain terhadap kenalan bukan teman yang sesungguhnya.

Perbanyaklah mengenal orang dari berbagai bangsa, perbanyaklah mengenal orang dari berbagai tempat, perbanyaklah mengenal orang dari berbagai agama, dan dari segala penjuru dunia. Karena dengan begitu kita akan banyak sekali mengenal karakter orang-orang disekitar kita. Karena dengan itu kita bisa belajar.
Tapi pilihlah dari orang-orang yang kita kenal tersebut untuk menjadi teman kita. Pilih.


Ternyata memilih teman bukan perkara yang main-main, karena memilih teman itu perintah agama.

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan yang buruk itu seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya atau engkau membelinya atau engkau akan mencium harumnya. Sementara pandai besi mungkin akan membakar bajumu, atau engkau akan mencium bau yang tidak sedap”. (Bukhari dan Muslim)

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karena hendaklah salah seorang diantara kalian mencermati kepada siapa kalian berteman.” (Tirmidzi, Ahmad dan Abu Daud)

Mungkin setelah kita membaca hadist diatas, kita akan berfikir dan bertanya. Kalau begitu para pendakwah akan menjadi golongan VIP yang akan berkumpul dengan pendakwah lainnya? Percuma gak sih kalau kita dakwah pada orang yang sudah tahu? Lalu siapa yang akan mengembalikan mereka pada jalan yang benar?
Pertama, dakwah itu bukan hanya memberi atau bertukar ilmu dengan seseorang yang belum tahu, tapi mengingatkan orang-orang yang sudah tahu ilmunya tapi masih belum mengamalkannya. Sukur-sukur dari situ kita juga diingatkan untuk amalan yang lain. Kedua, Tugas dan tanggung jawab kita bukan untuk mengembalikan seseorang untuk menjadi benar, tapi memberitahu akan kebenaran. Perkara menerima tidaknya ia, kembalikan pada individunya tersebut. Jangan lupa mendoakan, karena Allah lah yang maha membolak balikan hati.

Teringat dengan sebuah nasihat lukman untuk anaknya, “Berkumpulah dengan orang-orang shalih yang berilmu. Jika kamu berilmu maka kamu akan bertukar ilmu dan semakin banyaklah ilmumu. Dan ketika kamu tidak berilmu maka kamu akan mendapatkan ilmu-ilmu yang sebelumnya kamu dapatkan”.

Jadi, pilihlah teman yang baik, yang bisa sama-sama membawa kepada kebaikan, yang mau saling menasehati, yang jauh dari hal-hal kerusakan ataupun hal-hal yang sia-sia. Sekali lagi silakan mengelilingi dunia ini, bergaul dengan begitu banyak orang, belajar dari banyak tempat, mengenal dari banyak orang. Tapi pilihlah dari orang-orang tersebut yang akan menjadi teman kita.

Minggu, 11 November 2012

Hal yang Paling Dekat...


Beberapa saat yang lalu saya membaca sebuah tulisan di blog pribadi saudari kita yang kebetulan menjadi salah satu korban kecelakan di purwokerto.
Tulisan tersebut menceritakan apa yang  ia rasakan ketika memperlakukan cadaver (mayat yang dijadikan bahan praktikum bagi mahasiswa kedokteran). Ya, siapapun kita sekarang tentunya kita berharap suatu saat ketika ruh ini meninggalkan jasad, jasad kita diperlakukan dengan layak, dimandikan, dikafankan, dishalatkan, dan dikuburkan.
Tak akan ada dari kita yang ingin jasad ini tak terurus. Tak ada dari kita yang mengharapkan jasad ini menjadi bahan praktikum. Tak ada dari kita yang menginginkan jasad ini menjadi bahan percobaan, dengan sayatan pada tubuh kita untuk meniliti organ dalam kita, dengan pemisahan kulit ini dari jaringan otot kita untuk meniliti jaringan otot kita dan lain sebagainya. Tak akan pernah ada.


Tidak akan ada yang tahu kapan ia menjemput kita? Kapan ia datang? Bagaimana cara ia menjemput kita?  Bagaimana keadaan kita saat kita di jemput? Bagaimana nasib kita setelahnya?

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, dalam keadaan apa diri ini ketika Allah mengutus malaikat maut untuk menjemputku? dalam keadaan apa ketika diri ini meregang nyawa? bagaimana ekspresi wajah ini ketika malaikat maut ada dihadapan kita? tersenyumkah? atau takut akan apa yang Allah tampakkan sebelumnya?

Ya, Allah..
Panggil dan Jemput kami dalam keadaan khusnul khatimah.
Seandainya ajal ini semakin dekat, semakin datang. Seandainya umur ini tak panjang lagi. Seandainya kesempatanku semakin sempit.
Izinkan kami memperbaiki diri ini untuk menghadapMu. Izinkan diri ini untuk merasakan nikmat islam dan iman, nikmat bersujud padaMu yang selama ini belum sepenuhnya kami rasakan dalam hati kami yang kecil ini. Berikan kami ketakwaan yang penuh padaMu, layaknya Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan anaknya, layaknya Nabi Ismail yang rela dikorbankan ayahnya demi perintahMu.
Izinkan kami untuk berbakti pada kedua orang tua kami, membahagiakan mereka, melihat mereka tersenyum bangga, mendoakan mereka di sisa hidupku.
Izinkan kami untuk bersama-sama menuju jalanMu bersama saudara-saudara seiman kami.
Jadikan semua tetes air mata, semua rasa sakit yang kami rasakan pada saat di dunia ini menjadi penggugur dosa kami, menjadi satu jalan untuk menuju pengampunanMu ya Rabb.
Ya Allah..
Permudah kami ketika Engkau menjemput kami.
Sunggingkan senyum diwajah kami ketika malaikat maut berada dihadapan kami.
Permudah lisan ini untuk mengucapkan asmamu ketika nyawa kami hendak meninggalkan tubuh ini.
dan tolong jadikanlah diri ini selalu dalam keadaan siap untuk Engkau jemput ya Allah, karena hal yang paling dekat dengan kami adalah kematian.

Muhasabah... untuk engkau yang didepan sana


Malam ini, sepulang saya dari tabligh akbar dengan tema Muhammad al-fatih, saya merasa begitu iri. Rasa iri saya kepada tokoh-tokoh besar islam semakin menjadi. Bayangkan, rata-rata, beliau-beliau telah hafal al-quran dari kecil. Beliau-beliau telah diperdengarkan sejarah islam, perjuangan-perjuangan, kebesaran-kebesaran islam, semangat-semangat islam sejak dini, sejak dimulainya diperdengarkan dongeng sebelum tidur. Inilah yang menjadikan beliau-beliau selalu berusaha memantaskan diri untuk menjadi seseorang yang selalu berada di jalan Allah swt. Dan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk agamanya, Islam.

Lalu lihatlah diri ini, berapa tahun kita hidup? apa yang sudah kita berikan untuk agama kita? untuk islam? atau pertanyakan dahulu diri ini, sudah maksimalkah kita untuk memantaskan diri menjadi pejuang-pejuang yang selalu berada di jalan Allah?
Dan detik ini seketika saya malu, saya merasa waktu telah terbuang sia-sia.
Berkah-kah waktu yang kita pergunakan selama ini? kemana saja kita selama ini? apa yang menyibukkan kita? hati ini masih tertunduk malu.


Malam ini, dengan adanya perasaan penyesalan dalam diri ini tentang waktu yang terbuang, tentang niat dan kesungguhan yang dipertanyakan, tentang keinginan mencari ilmu yang tak maksimal, dan tentang konstribusi kita pada islam yang ternyata bukan apa-apa. Inilah curahan hati dan harapan untuk mereka didepan sana yang akan lahir dari rahimku, yang mungkin akan ku-kecewakan.

Kepada anakku kelak,
Maafkan aku, karena aku bukanlah seseorang yang pandai mendidikmu, tapi mengertilah bahwa sesungguhnya aku ingin engkau selalu berada di jalan yang selalu Allah Ridhai.
Maafkanlah aku, karena aku bukanlah seseorang yang cerdas, tapi mengertilah bahwa aku ingin engkau memiliki pengetahuan yang luas, hingga engkau dapat mengajarkan nilai-nilai agamamu, pengetahuanmu pada cucuku kelak.
Maafkan aku, karena aku hanyalah seseorang dengan pengetahuan sejarah yang sedikit, tapi mengertilah, aku ingin memperdengarkan dirimu cerita-cerita perjuangan islam, cerita kebesaran-kebesaran islam, sejarah-sejarah islam, sehingga keyakinanmu, semangatmu di dan menuju jalan Allah telah berkobar sejak dini.
Maafkanlah aku, karena aku hanya seseorang yang tak pendai menghafal Al-Quran, tapi mengertilah bahwa aku ingin engkau dapat mengahafal Al-Quran dengan baik. Sehingga engkau tak akan pernah lupa apa-apa yang tertulis didalamnya, senantiasa takut setakut takutnya pada azab Allah, patuh sepatuh patuhnya ada perintah Allah.
Maafkanlah aku, karena aku hanya seseorang yang tak pandai memberikan contoh yang baik bagimu, tapi mengertilah aku ingin engkau menjadi seseorang yang tak pernah lupa mendirikan sunnah, hingga engaku selalu merasa dekat dengan Allah.
Maafkanlah aku, karena aku hanya perempuan yang biasa, tapi mengertilah aku ingin engkau selalu istiqomah di jalan Allah, selalu istiqamah untuk terus mendekatkan diri  pada Allah, selalu istiqamah untuk berjuang demi Agamamu, selalu istiqamah di jalan dakwah, mempunyai jiwa pemimpin yang memimpin dengan hatinya, berjiwa besar, penyabar, penyayang, bertanggung jawab, shalih/shalihah, hingga engkau dapat berkontribusi maksimal untuk agamamu.

Tak ada kata terlambat untuk belajar, tak ada kata menyerah untuk pejuang, tak ada kata tidak mungkin untuk engkau yang berkeyakinan.