Pindah dari zona nyaman adalah pilihan. Aku kita kepindahanku ini akan mengantarkanku pada lingkungan yang dapat bersahabat denganku. Nyatanya tidak, zona nyaman yang dulu ada, hanya menjadi bayang-bayang dimana aku bertanya pada diriku. Apa yang salah denganku?
Dulu aku berada diatara orang - orang yang menurutku tidak open mind. Dulu aku memilih mundur dan hanya berinteraksi seperlunya. Aku ingin kondisi yang ideal. Dimana semua orang berteman dan bersosialisasi tanpa melihat suku dan agama. Tanpa harus ada yang merasa tersingkirkan ketika mereka dirasa berbeda. Padahal perbedaan itu yang bisa membuat kita kaya akan rasa, kaya akan ide, kaya akan pelajaran hidup yang dapat diambil. Namun, kenyataan berbeda, nyatanya perbedaan hanya menjadi alasan mengapa ada orang - orang yang tersingkir atau memilih menyingkir.
Hari ini, aku berdiri ditempat yang sunyi. Bukan karena tak ada satu orang pun, tapi karena aku berbeda. Aku berharap hijrahku menjanjikan lingkungan yang lebih baik. Namun aku salah. Lagi - lagi aku berada di tengah orang - orang yang tidak open mind. Atau aku yang tak bisa membawa diri untuk bergaul? Rasanya tidak. Aku memiliki banyak teman teman di luar ruangan ini. Tapi di ruangan ini aku merasa sendiri.
Aku tak lagi seperti dulu, aku tak lagi menyingkir. Aku berusaha keras untuk bisa berdiri diantara mereka. Tapi aku merasa gagal. Aku merasa sendiri tanpa tempat berlindung. Aku berusaha berinteraksi dengan normal, nyatanya sering kali tak dianggap. Apa yang salah? apa karna aku bodoh dan banyak bertanya? bukan kah kita sama sama dalam ketidak tahuan? atau karna aku tidak seberuntung kalian yang bisa membeli apa yang kalian mau? ah ya aku memang tak bisa mengikuti gaya hidup kalian. Aku tida bisa. Tapi aku disini, mengetuk pintu yang tak pernah terbuka untukku.
Aku melangkah masuk menuju ruangan yang tidak banyak orang disana, yang aku tahu ruangan itu masih satu bagian, masih satu tubuh dengan gedung ini. aku mulai mengoprasikan satu komputer yang biasa digunakan pemantauan, bukan bagianku memang.
Aku : Permisi mba, aku pinjam ya mba, mau ngambil data.
Apa yang seharusnya ia katakan ketika bagian dari tubuhu meminta bantuan?
Dia : Lho.. kamu bukannya bagian itu ya, bukan disini kan?
Aku : Saya sebagian disini koq mba.
Dia : Oh gituuu
Jadi seandainya saya bukan bagiannya, saya tidak boleh menggunakan komputer dan mengambil data? rasanya ini sudah memasuki tahun 2015. Tetapi masih aja ada orang - orang yang berfikir terkotak - kotak. Walau kita satu tubuh, kamu namanya tetap kaki, kamu tangan, kamu kepala. Tidak kah pernah berfikir bahwa kita satu tubuh. Kita bergerak, kita hidup dengan porsi yang lengkap, tapi justru kita yang mengkotak - kotakannya.
Layaknya manusia, ketika kita berjalan, ada yang melangkah yaitu kaki, ada yang melihat jalan yaitu mata, ada yang berfikir tujuan kita kemana yaitu otak. Kita berjalan beriringan karena kita satu tubuh, seharusnya kita bekerja sama. Lagi - lagi tentang ego, lagi - lagi tentang pengkotak - kotakan. Padahal tujuan kita sama, padahal kita berada di tubuh yang sama, apa salahnya saling membantu? apa salahnya belajar peduli? apa salahnya sama - sama beriringan menuju tujuan tersebut. Bukankah akan lebih mudah apabila kita bekerja sama? Bukankan akan lebih cepat untuk mencapai tujuan ketika kita bersama?
Kadang pengkotak - otakan hanya akan mebuat pikiranmu menjadi sempit. Kadang pengkotak kotakan hanya akan menjadikanmu egois dan tidak berempati. Kadang tujuan ita hanya akan menjadi sebuah impian dengan kotak - kotak tersebut. Anehnya kamu bukan intropeksi malah sibuk menyalahkan.
Ya.. kadang kemajuan teknologi tidak berbanding lurus dengan kemajuan kepribadian kita. Kadang tingginya jenjang pendidikan kita tidak berbanding lurus dengan pola pikir kita.
Sekali lagi berfikir, siapa yang salah? Aku, Mereka, atau Sistem?
Egois itu.. mementingkan dirinya sendiri. Semua yang ada di sekitarnya harus memuji dirinya tanpa terkecuali. Dia harus menjadi pusat perhatian dimanapun kapanpun dan bagaimanapun caranya. Atau kalian punya definisi sendiri? rasanya definisi itu tak akan jauh jauh dari yang saya kemukakan bukan?
Mungkin kita berasal dari latar belakang yang berbeda, pola pikir berbeda, bentukan lingkungan yang berbeda dan pola didik orang tua yang berbeda. Namun, seharusnya dengan bertambahnya umur bertambah pula kedewasaan kita. Termasuk tingkat emosional kita yang bisa mengendalikan perasaan kita, terutama egois. Umur tak lagi muda tapi terkadang sifat kekanak-kanakan baru saja muncul, atau egois sudah tak lagi pada tempatnya.
Ceritanya, aku dan teman - teman mengikuti diklat Prajabatan di salah satu instansi yang menyediakan layanan pusdiklat di Jakarta. Dengan demikian, kalian pun akan berfikir bahwa kami akan membawa nama baik instansi tempat kami bekerja, bukan lagi nama kami pribadi. Sekarang kami harusnya dapat bekerja sama dan menjaga nama baik instansi tempat kami bernaung, bukan lagi sendiri, bukan lagi tentang "aku", siapa yang terbaik atau siapa yang terburuk.
Ada seorang teman, sama-sama sudah dewasa, sama-sama sudah bukan anak kecil lagi. Ketika ia mendapatkan informasi, ia simpan rapat-rapat untuk dirinya sendiri. Ketika dia mempunyai bahan pelajaran yang disampaikan di kelas, dia hanya menyimpan untuk dirinya sendiri, sering berpura-pura belum selesai mengerjakan tugas, dengan harapan teman yang lainnya santai tidak mengerjakan. Dan ketika itu terjadi dia akan berteriak, "aku udah dong" sambil cari perhatian ke widyaiswara (dosen). Hellowww ade yang.. ehem cantik (boong dikit), ini bukan kampus, ini bukan sekolahan dimana kamu menunjukkan eksistensimu dengan cara yang kekanak-kanakan. Kita disini berdiri bersama-sama diinstansi dan membawa nama baiknya di pundak kita. Helloww ade yang cantik, kamu ingin menjadi terbaik namun ada yang terburuk di instansi yang sama, apakah kamu tidak malu? Tahu kah kamu, karna cerita tersebut, namamu sudah tak sebaik dulu lagi? kamu punya teman tetapi tidak akan mempunyai teman baik, teman akrab yang betah disisimu berpuluh puluh tahun.
Ini adalah contoh bahwa egois hanya akan mengantarkanmu bukan pada kesuksesan dan keakuan yang kita harapkan. Namun egois akan membawamu kepada titik nol, titik dimana kamu hanya akan menjadi manusia individu penjilat, bukan manusia sosial. Nilai-nilai pancasila yang ditanamkan sudah menjadi bias, bahkan hanya beberapa jam bahkan menit setelah keluar dari kelas diklat prajabatan. Ego hanya kebodohan yang kita sombongkan, ego hanya perasaan ketidakmampuan yang ingin diakui dunia, ego hanya perasaan kesepian yang ingin kita tutupi.
Sebenarnya sifat egois dibentuk sejak kita kecil lalu diasah disetiap jenjang pendidikan, semua tentang angka, semua tentang siapa terbaik, semua tentang kecerdasan yang hanya dilihat dalam selembar berisikan angka-angka. Lalu, apakah yang sudah kita lupakan? ya, agama, moral dan budi pekerti.
Saya merasa sedikit tertegur oleh bacaan-bacaan singkat malam ini, atau mungkin Allah sengaja menggerakkan tangn-tangan ini untuk membuka tulisan-tulisan tersebut? sengaja memberitahukan diri ini untuk segera membenahi diri?. Entahlah...
Saya merasa tersadar bahwa saya...
Mendapat pelajaran untuk lebih banyak bersyukur, lebih banyak lagi berbuat, lebih banyak lagi bermanfaat, mengingat saya dikelilingi oleh orang-orang hebat. Tidak perlu saya sebutkan satu persatu, tapi mereka adalah orang-orang yang hebat, yang dapat menginspirasi saya dengan kapasitas masing-masing.
Mendapatkan pelajaran bahwa kita khususnya saya adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, dimana saya tidak akan dapat hidup sendirian. Butuh teman, butuh beradaptasi, butuh tempat, butuh pengalaman, butuh pelajaran, butuh nasihat, dan orang-orang disekitar saya lah yang menyediakan itu semua. Bukan hanya orang-orang yang menyayangi saya bahkan orang-orang yang menbenci saya.
Mendapatkan pelajaran bahwa tanggung jawab bukan hanya melulu tentang kuliah. Tapi tentang bagaimana mengatur tanggung jawab-tanggung jawab lainnya yang seharusnya dapat seiring sejalan.
Mendapat pelajaran bahwa ruhiyah harus selalu ditingkatkan dan dijaga, agar nantinya berefek pada kehidupan. Ruhiyah? shalat, shadaqoh, tilawah, Shaum (puasa), dll. Berefek setidaknya untuk menjaga diri ini, mungkin jangan terlalu berharap orang lain merasakan efeknya. Setidaknya diri ini, perilaku ini, hati ini, lisan ini, hidup ini dapat dikontrol untuk lebih baik, dengan ruhiyah yang lebih baik pula.
Mendapatkan pelajaran bahwa tidak ada satu orang pun yang memiliki sifat dan karakteristik yang sama. Komunikasilah yang dapat membuat kita mengerti satu sama lain. Mengerti akan menjadikan empati. Jangan melulu tentang bagaimana orang bersikap pada kita, tapi bagaimana kita bersikap pada orang lain.
Mendapatkan pelajaran bahwa hati ini harus terus di upgrade. Jangan biarkan hati ini membeku, apalagi menghitam karena sifat dan hati yang buruk. “Jika kita merasa besar priksa hati kita mungkin hati kita sedang bengkak karna penyakit hati yang sudah parah. Jika kita merasa suci coba periksa jiwa kita mungkin itu putih karna nanah dari luka nurani kita. Jika kita merasa tinggi coba periksa batin kita mungkin ia sedang melyang kehilangan pijakan. Jika kita merasa wangi coba periksa ikhlas kita mungkin itu bau asap dari amal shalih kita yang hangus karna riya”
Mendapatkan pelajaran bahwa orang yang mempunyai masa lalu yang buruk, bukan berarti dia mempunyai masa depan yang buruk pula. Mungkin ia akan lebih memaknai hidup ini, akan lebih memandang bijak hidup ini, akan lebih berusaha membenahi diri, bahkan disaat kita sibuk berkomentar negatif tentangnya.
Mendapatkan pelajaran bahwa semuanya butuh proses, dan tidak ada yang instan. Karena sesuatu yang instan tidak akan mendatangkan manfaat lebih, bahkan hanya menimbun penyakit pada diri ini. Seperti layaknya mie instan. Karena proses akan memperkenalkan kita pada perjuangan, pertahanan, pelajaran panjang, dan sesuatu yang berujung manis.
Mendapatkan pelajaran bahwa menjadi pemimpin bukan menunjuk tapi mengayomi, bukan memerintah tapi memotifasi, bukan mendikte tapi memastikan, bukan kasar tapi tegas, bukan lembek tapi lembut, bukan mengajari tapi berbagi, bukan harus menangani masalah remeh tapi tetap memeriksa masalah yang selau dianggap remeh. Dan tidak ada satu bagianun yang sebenarnya remeh.
Dan mungkin masih banyak lagi yang harus dipelajari dalam setiap detiknya, dalam setiap kata-kata, dalam setiap peristiwa, dalam setiap langkah, dalam lingkungan tempat kita berpijak, dan dalam individu-individu disekitar kita.
Teringat obrolan dengan seorang sahabatku beberapa waktu yang lalu. Kami membahas
tentang kekuatan seseorang untuk mengontrol pikirannya dan dirinya sendiri
dalam menyelesaikan masalahnya terkait dengan orang lain. Kontrol diri tersebut
ditentukan oleh bagaimana pola pikir kita terhadap masalah dan sikap yang kita
ambil untuk menyelesaikan masalah.
Salah satu masalah
yang diangkat adalah mungkin sebagian orang akan merasa tersinggung dan jengkel
apabila ada orang yang berkomentar negatif tentang kita. Apalagi jika sebuah
forum sengaja dibuat untuk memberikan komentar-komentar tentang diri kita. Lalu
sebagian orang akan merasa dirinya telah dihina, dicela, dan mungkin merasa
nama baiknya tercemar. Stop pikiran tersebut karena pikiran-pikiran tersebut yang
akan membuat hati kita merasa lelah. Yang terparah adalah akan menimbulkan blaming terhadap orang lain, dan yang
terparah adalah merasa dirinya selalu menjadi korban.
Mungkin kita
pernah mendengar tentang kisah Luqman yang menunggangi keledai bersama anaknya,
dimana didalam perjalanan mereka selalu mendapatkan komentar yang berbeda-beda.
Jangan salah persepsi dengan kisah ini, karena hikmah dari kisah ini
penerapannya berbeda dengan kasus diatas. Hikmah dari kisah ini adalah, jangan
kita hanya mengambil pertimbangan hanya dari komentar komentar orang lain,
melainkan kita kembalikan semuanya kepada tuntunan Allah.
Ya, memang kita
tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang yang ada disekitar kita. Tapi
bukan berarti juga jika kita tidak introspeksi diri atas diri kita. Mungkin saja
bukan apa yang mereka katakan atas diri kita ini adalah benar, dan mungkin
butuh pengkoreksian disana. Karena semua bentuk kritik dan komentar dapat
membangun diri ini menjadi pribadi yang lebih baik lagi jika kita mau
menjadikan itu semua sebagai awal dari introspeksi diri.
Jangan menjadi seseorang yang berfikir bahwa orang-orang disekitar kitalah yang harus mengerti kita. jangan berfikir bahwa semua harus seperti yang kita harapkan. Karena hal yang paling sulit adalah mengubah orang lain. Karena hal yang
lebih mudah dilakukan adalah bukan mengubah orang lain, bukan mengubah keadaan
disekitar kita menjadi seperti yang kita inginkan, tapi yang paling mudah
adalah mengontrol diri untuk mengambil sikap yang bijak. Semakin baik kontrol
diri, semakin baik sikap yang akan kita ambil.
Inilah gunanya untuk
mengontrol diri, kita bisa mengubah semua hal yang menyebalkan menjadi sesuatu
yang bermanfaat.
Beberapa saat yang lalu saya membaca
sebuah tulisan di blog pribadi saudari kita yang kebetulan menjadi salah satu
korban kecelakan di purwokerto.
Tulisan tersebut menceritakan apa
yangia rasakan ketika memperlakukan
cadaver (mayat yang dijadikan bahan praktikum bagi mahasiswa kedokteran). Ya,
siapapun kita sekarang tentunya kita berharap suatu saat ketika ruh ini
meninggalkan jasad, jasad kita diperlakukan dengan layak, dimandikan,
dikafankan, dishalatkan, dan dikuburkan.
Tak akan ada dari kita yang ingin
jasad ini tak terurus. Tak ada dari kita yang mengharapkan jasad ini menjadi
bahan praktikum. Tak ada dari kita yang menginginkan jasad ini menjadi bahan
percobaan, dengan sayatan pada tubuh kita untuk meniliti organ dalam kita,
dengan pemisahan kulit ini dari jaringan otot kita untuk meniliti jaringan otot
kita dan lain sebagainya. Tak akan pernah ada.
Tidak akan ada yang tahu kapan ia
menjemput kita? Kapan ia datang? Bagaimana cara ia menjemput kita?Bagaimana keadaan kita saat kita di jemput?
Bagaimana nasib kita setelahnya?
Lalu aku bertanya pada diriku
sendiri, dalam keadaan apa diri ini ketika Allah mengutus malaikat maut untuk
menjemputku? dalam keadaan apa ketika diri ini meregang nyawa? bagaimana
ekspresi wajah ini ketika malaikat maut ada dihadapan kita? tersenyumkah? atau
takut akan apa yang Allah tampakkan sebelumnya?
Ya, Allah..
Panggil dan Jemput kami dalam
keadaan khusnul khatimah.
Seandainya ajal ini semakin dekat,
semakin datang. Seandainya umur ini tak panjang lagi. Seandainya kesempatanku
semakin sempit.
Izinkan kami memperbaiki diri ini
untuk menghadapMu. Izinkan diri ini untuk merasakan nikmat islam dan iman,
nikmat bersujud padaMu yang selama ini belum sepenuhnya kami rasakan dalam hati
kami yang kecil ini. Berikan kami ketakwaan yang penuh padaMu, layaknya Nabi
Ibrahim yang rela mengorbankan anaknya, layaknya Nabi Ismail yang rela
dikorbankan ayahnya demi perintahMu.
Izinkan kami untuk berbakti pada
kedua orang tua kami, membahagiakan mereka, melihat mereka tersenyum bangga,
mendoakan mereka di sisa hidupku.
Izinkan kami untuk bersama-sama
menuju jalanMu bersama saudara-saudara seiman kami.
Jadikan semua tetes air mata, semua
rasa sakit yang kami rasakan pada saat di dunia ini menjadi penggugur dosa kami,
menjadi satu jalan untuk menuju pengampunanMu ya Rabb.
Ya Allah..
Permudah kami ketika Engkau
menjemput kami.
Sunggingkan senyum diwajah kami
ketika malaikat maut berada dihadapan kami.
Permudah lisan ini untuk mengucapkan
asmamu ketika nyawa kami hendak meninggalkan tubuh ini.
dan tolong jadikanlah diri ini
selalu dalam keadaan siap untuk Engkau jemput ya Allah, karena hal yang paling
dekat dengan kami adalah kematian.
Terusik dari tulisan teman yang bunyinya "If in the beginning, you're wrong, it will be always wrong till the end". Mengapa ketika awalnya salah, harus selalu salah sampai akhir? bagaimana menurut anda? apakah ada seseorang yang akan terus merelakan dirinya berbuat kesalahan?. Saya kira tidak.
Mungkin beberapa dari kita akan langsung berfikir pada sebuah kebohongan, ada yang bilang sekali berbohong akan terjadi kebohongan-kebohongan lainnya untuk menutupi kebohongan tersebut. Hal ini benar, namun untuk konteks satu masalah tersebut. Untuk masalah yang lain, tentunya seseorang akan belajar untuk memperbaiki kesalahannya dan tak mengulangi kebohongannya.
Atau dengan contoh yang lain, contoh yang sudah sangat klasik. Misalkan kita ingin memasak nasi, namun kita terlalu banyak menambahkan air kedalam berasa yang akan dimasak, dan akhirnya berasa tersebut akan menjadi bubur. Hal ini merupakan sebuah kesalahan, tapi bubur (product kesalahan tersebut) bukan akhir dari segalanya. Kita dituntut bagaimana menjadikan bubur tersebut enak dan nikmat untuk dikonsumsi, bukan untuk disia-siakan dan dibuang. Bagaimana menjadikannya lezat dan berbeda dari bubur lainnya.
Ya, karena apa-apa yang terjadi sudah diRidhai oleh Allah, apa-apa yang terjadi sudah memiliki tujuan, hikmah dan akibar dari kejadian tersebut, bbegitu juga dengan kesalahan. Kesalahan yang dilakukan , bukan hanya untuk kita sesali, tapi untuk kita pelajari, untuk kita berfikir bagaimana memperbaikinya, bagaimana kita tidak mengulanginya lagi. Begitu juga untuk orang disekitar kita, mungkin dengan kesalahan kita mereka belajar, terbentuk pola-pola pikiran yang nantinya akan mengantarkan mereka pada suatu kebaikan, dan lain-lain. Mungkin saja dengan kita melakukan kesalahan ibrahnya bukan hanya untuk diri kita tapi juga untuk orang-orang disekitar kita.
Think smart.. jangan pernah memandang suatu kesalahan sebagai kata "Salah" dengan mutlak. Allahualam bisawab.
Mungkin kita sudah pernah dengar tentang pidato Steve Jobs tersebut beberapa tahun yang lalu, namun saya kembali tergelitik dan mencari versi lengkapnya. Sampai suatu ketika salah satu dosen saya pun bercerita tentang pidato tersebut di kelas.
Dalam acara wisuda Universitas Stanford tahun 2005, Steve Jobs memberikan pidato Inspiratif. Steve Jobs, pendiri Apple yang legendaris itu mengemukakan mengenai 3 hal, yaitu “Connecting the Dots”, “Love and Loss”, dan “Death”.
Berikut adalah petikan pidati steve jobs yang saya ambil dari beberapa sumber.
Connecting the Dots
Dalam Connecting dots steve mengemukakan tentang kisah kelahirannya dan proses dia diadopsi sejak lahir oleh sebuah keluarga yang menyekolahkannya hingga sampai perguruan tinggi dengan biaya yang menghabiskan seluruh tabungan orangtua asuhnya tersebut. Namun, Steve Jobs hanya bertahan dibangku kuliah selama enam bulan. Beliau tidak dapat menerima perkuliahan, yang menurutnya belum tentu bisa membantu hidupnya, tapi menghabiskan tabungan orangtuanya. Sampai akhirnya beliau hidup menggelandang, menjual botol coke dengan uang 5 sen, hanya untuk membeli makanan.
Tapi sebelum dropout, beliau mengikuti kuliah tentang Typografi; belajar tentang perbedaan berbagai huruf yang indah dan bagaimana membuatnya. Walaupun pada saat itu tak terlihat manfaatnya secara nyata, pelajaran Typografi itu ternyata memberikan pengaruh besar ketika Steve Jobs merancang komputer Macintosh pertama bersama Steve Wozniak.
“..following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on”
“..mengikuti rasa ingin tahu dan intuisiku adalah jalan keluar tak ternilai di kemudian hari.”
“You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever.”
“Kamu tidak dapat menyambungkan tititk-titik dengan melihat masa depan, kamu hanya bisa mnyambungkannya dengan melihat masa lalu. jadi, kamu harus percaya, entah bagaimana titik-titik itu akan menghubungkan kamu dengan masa depan. Kamu hanya perlu percaya --- usaha, takdir, kehidupan, karma, atau apapun.”
Love and Loss
Love and Loss yang disampaikan Steve Jobs adalah mengenai apa yang beliau alami dan rasakan ketika ditendang dari puncak kekuasaan Apple, padahal dialah pendiri Apple. Pada awalnya beliau mengalami guncangan, namun momen itu ternyata sekarang disyukurinya. Yang membuatnya bertahan dan kemudian dapat bangkit adalah kecintaannya yang tak pudar pada apa-apa yang dilakukannya. Itulah yang membuatnya mendirikan NeXT dan Pixar.
Bahkan, beliau mengatakan bahwa dikeluarkan dari Apple adalah hal terbaik yang dialaminya, yang membawanya pada masa-masa paling kreatif dalam hidupnya.
“I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.”
“Saya telah dikeluarkan, tetapii saya tetap pada kecintaan saya. Dan saya memutuskan untuk memulai lagi.”
“Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith.”
“Kadang-kadang hidup membenturkan kepalamu. Jangan kehilangan keyakinan.”
“The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.”
“Beban keberhasilan akan tergantikan dengan keringanan saat menjadi pemula, kurang lebih tentang segalanya. Ini membebaskan saya untuk masuk kepada satu periode paling kreatif dalam didup saya.”
“I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.”
“Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Dan itu kesungguhan untuk pekerjaan Anda karena Anda bekerja untuk apa yang anda cintai. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan satu-satunya cara untuk benar-benar puas adalah melakukan apa yang Anda pilih adalah pekerjaan luar biasa. Dan satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan yang luar biasa adalah mencintai apa yang Anda lakukan. Jika Anda memiliki belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan merasa puas. Semua tentang hati, Anda akan tahu bila Anda telah menemukannya. Semuanya akan berangsur angsur lebih baik dan lebih baik layaknya tahun yang berganti. Jadi, teruslah mencari sampai Anda menemukannya. Jangan pernah merasa puas.
Death
Satu hal luar biasa dari Steve Jobs adalah kebiasaannya bertanya setiap hari di depan cermin “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?” Pertanyaan itu telah mendorongnya menjalani hidup yang berharga. Apalagi, ketika dia mendapat vonis dokter hanya bisa hidup beberapa bulan lagi karena kanker pankreas yang dideritanya.
“If you live each day as if it was your last, someday you’ll most certainly be right.”
“Apabila di setiap hari anda menganggap itu adalah hari terakhir anda, suatu saat anda pasti akan menemukan sesuatu yang benar.”
“Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure – these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.”
"Mengingat bahwa saya akan segera meninggal adalah alat yang paling penting yang pernah saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar dalam hidup. Karena hampir segala sesuatu - semua kenyataan, kebanggaan, takut malu atau gagal - hal-hal ini tidak bermanfaat lagi saat menghadapi kematian, hanya meninggalkan apa yang benar-benar penting. Mengingat bahwa Anda akan mati adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari perangkap pikiran Anda kehilangan sesuatu. Anda selalu tak punya apa-apa. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda. "
“No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it.”
"Tidak ada yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun kematian adalah tujuan kita semua. Tidak ada yang bisa mengelak. "
“Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away.”
"Kematian seperti satu satunya penemuan terbaik dari kehidupan. Ini adalah agen perubah Kehidupan. Menghilangkan yang lama untuk membuat jalan bagi yang baru. Sekarang yang baru adalah Anda, tapi suatu hari tidak terlalu lama dari sekarang, Anda secara bertahap akan menjadi tua dan harus dibersihkan juga. "
“Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.”
"Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma - yaitu hidup dengan hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan kebisingan pendapat orang lain menenggelamkan suara hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda. Entah bagaimana mereka sudah tahu apa yang Anda benar-benar ingin menjadi. Segala sesuatu yang lain adalah sekunder. "
Dari hal hal yang disampaikan beliau, semoga bisa menjadi bahan renungan buat kita.
Berikut versi videonya yang beredar di youtube, semoga bermanfaat.. :)
Semburat biru langit menampakkan hamparan kapas putih tak bertuan. Membuka cakrawala, menjelajahi langit dengan hiasan hiasan awan yang menggantung indah. Dengan sedikit celah membuka, siluet mentari pagi menyeruak.
Kabut-kabut biru menyambut embun basah, dengan tetesan khas di pucuk daun yang masih terbalut hawa dingin. Memetik daun menjari, dan menuliskan sebuah puisi klasik khasmu di hamparan hijau daun yang tak luas. Membiarkannya terbawa aliran air, dan membiarkan angin menyampaikan pesanmu.
Sementara gerbang peradaban mencoba mempersilakan daun lusuh dengan puisimu mengalir, dan mengantarkan pesan angin menuju tempat tujuannya. Menciptakan siluet mentari dengan rintik hujan menjadikan jembatan berpelangi.
Mengatungkan butir-butir embun dari kabut-kabut biru, gerbang peradaban perlahan terbuka. Melangkah dan menyebrangi cakrawala, hanya dengan sehelai daun lusuh dan puisi.
Menapaki lagi jalan penuh jejak kakimu, tak akan menjadikan buih-buih kenangan itu membawamu kembali. Membawamu ke tepi zaman yang telah lama tertinggalkan. Bukankah tepi zaman itu berisi nyanyian nyanyian harapan? aku sudah lama tak menyapanya.
Huruf demi huruf ku ukirkan pada pasir basah tepi pantai. Berharap ombak menyampaikan semua ukiran yang mungkin dapat kau rangkai dengan warna warni refleksi kilau cahaya langit di permukaan laut yang mulai meninggi.
Masih ingatkah kau dengan warna horizon cakrawala? masih biru, namun dengan lantang kau menjawab hijau. Kehijauan pulau yang seharusnya ada di ujung horizon, katamu sambil memandang tegas laut lepas di hadapanmu. Sejuk angin hanya menyadarkanku horizon masih membiru.
Yang aku tahu aku percaya suatu saat tepi zaman kan bercerita tentang horizon cakrawala yang menghijau, dengan kehijauan pulaunya.
Merasakan sapuan buih mendingin, memandang karang menajam terkikis abrasi.
Pasir hitam menyurut mengikuti buih-buih yang menyurutkannya. Katamu, Pasir-pasir hitam itu hanya akan terus surut mengikuti buih membawanya, terendap, tinggal di kedalaman tanpa kembali. Namun aku masih berdiri percaya akan ada gelombang yang lebih besar yang akan membawa pasir-pasir hitam itu kembali. Sayang aku lupa, gelombang hanya tercipta di permukaan, dan gelombang kedalaman tak akan pernah membawa pasir-pasir itu kembali ketepian.
Dan tepi zaman kali ini hanya sebuah kotak kosong dengan pasir-pasir yang semakin menyurut, hanya hilir dari zaman yang sudah terlupakan.
Masih ingat dengan kebudayaan hindu yang mengajarkan bahwa masyarakatnya menganut sistem kasta, dimana manusia hidup dengan mempunyai tingkatan-tingkatan yang melekat pada diri mereka sejak lahir, dan status tersebut akan di turunkan pada anak cucu mereka atau diwariskan. Kasta yang paling tinggi tingkatannya adalah kasta brahma dan yang paling rendah adalah sudra atau pariah, ah saya sudah lupa.
Pada kehidupan modern sekarang ini, mungkin sistem kasta yang dianut oleh masyarakat hindu sudah meluruh dan hanya beberapa kelompok masyarakat yang masih menganut sistem kasta tersebut, seperti di India dan di Bali.
Namun kenyataannya, sistem kasta tersebut tidak benar-benar meluruh dan hilang, namun beralih fungsi menjadi kasta modern dimana manusia di kotak-kotakkan, di kelompokkan berdasarkan kelompok-kelompok yang beredar di masyarakat. dan pada kenyataannya kelompok-kelompok tersebut hanya hidup dari dan untuk kelompoknya.
contoh kecilnya mungkin berada dikampus (read: lagi-lagi ngomongin kehidupan kampus). Tangan saya sedikit tergelitik untuk menulis hal ini, mengingat beberapa kelompok sangat mementingkan kelompoknya dalam hal apapun.
Saya jadi teringat beberapa kisah teman yang sempat mengalami kastaisme (read: pengkastaan dalam kampus). Seorang teman pernah mengupdate statusnya di salah satu jejaring sosial yang tengah banyak di gunakan oleh berbagai kalangan di negeri ini. Ia menceritakan kekecewaannya pada salah satu kelompok di kampusnya yang mementingkan kesejahteraan kelompoknya sendiri. Respon yang bersangkutan, "Memang salah bila kita memntingkan kelompok kita sendiri?".
dan seorang teman lagi menceritakan tentang kekecewaannya pada kasta-kasta di kampus tepatnya kasta pada angkatannya, yang notabene adalah temen-teman seperjuangannya. setiap kasta pasti mempunyai ciri khasnya sendiri, dan setiap kasta pasti mementingkan kelompoknya, dan rela menjegal temannya sendiri demi kelangsungan hidupnya. Penjegalan-penjegalan tersebut sangat terasa bagi orang-orang yang netral bukan, semua jalan akan terasa sulit kalau begini keadaannya.
Begitulah keadaan kasta modern di kampus, dan belum lagi di tingkat yang lebih tinggi, mungkin terlebih lagi dalam tingkat negara.
Tidak ada salahnya memang jika kita hidup berkelompok, karena pada dasarnya kita sebagai manusia senang hidup bersosial, serta tidak dapat dipungkiri, orang-orang yang mempunyai pemikiran yang sama akan berkumpul dalam satu wadah atau dalam satu organisasi. Tapi kita berkumpul dalam satu wadah bukan untuk menjatuhkan wadah yang lain bukan? dan bukan untuk menjegal jalan orang-orang yang sekiranya akan menghalangi jalan kita.
Tapi ingatlah semakin banyak wadah atau semakin banyak organisasi dalam satu sistem, akam menjadikan sistem tersebut berjalan lambat. Seperti kaki seribu yang berjalan lambat dengan seribu kaki di tubuhnya.
Siapa sih yang gak pernah merasakan kecewa, saya rasa semua manusia yang dengan kodratnya mempunyai perasaan pasti pernah merasakan kekecewaan. Kekecewaan bisa timbul dari masalah apa saja bukan? dari masalah birokrasi, kuliah, kerja, teman, atau apapun, yang dimana harapan kita terhadap mereka sangat besar, namun kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang kita harapakan.
Kecewa adalah suatu sikap yang merupakan bagian manusia. Sikap kecewa akan timbul pada saat tujuan atau harapan yang kita inginkan tidak tercapai atau tidak sesuai dengan kenyataan.
Saya pernah mendengar tentang kalimat optimis tentang kekecewaan dan harapan, kalimat itu berbunyi, “Teruslah berharap dan jangan pernah lelah untuk kecewa”. Dan sebuah kalimat pesimis yang berlawanan dengan kalimat pertama, “Jangan pernah berharap jika tidak ingin kecewa”. Dan kalimat manakah yang kamu setujui?.
“Pengharapan lebih sering kali di lakukan sebagai bentuk kepercayaan kita terhadap suatu lembaga ataupun individu yang dituju.”
Sebuah kalimat di atas mengingatkan saya dengan sepatah kata “birokrasi”. Sebuah kata yang sering kali menjadikan orang orang yang berhadapan dengannya harus merasakan kata kecewa. Mungkin dapat di katakan untuk mengenal birokrasi seringkali di wajibkan untuk kecewa ataupun patah hati.
Mengapa harus kecewa dahulu baru kita dapat mengenal sebuah ungkapan birokrasi di lembaga tempat kita bernaung?
Mungkin ini hanya sebuah ungkapan kekecewaan pada sebuah lembaga tempat saya bernaung sekarang. Kejadian pagi ini dimana saya harus mengerjakan sebuah tulisan (read: tugas), dalam waktu beberapa jam, dimana ekspektasi saya setelah membaca tugas tersebut adalah tugas tersebut diberikan pada saat jam kuliah dan mengerjakannya selama kuliah berlangsung dan di kumpulkan pada saat kuliah berakhir. Dan ternyata tugas telah di berikan sehari sebelumnya yang dimana hanya beberapa orang yang sudah mendapatkan informasi tersebut. Informasi yang tidak menyebar tersebut sangat merugikan beberapa pihak.
Contoh lainnya ada disaat mahasiswa mengajukan surat permohonan apapun terlebih untuk surat permohonan ujian susulan (read: untuk keperluan individu mahasiswa). Hal ini menjadikan birokrasi sangat sulit, terlebih apabila ada kampus sedang mengadakanacara yang lebih di prioritaskan. Walhasil bisa saja surat izin atas permohonan tersebut dikeluarkan setelah berabad-abad kemudian (red:lebay) atau terlebih surat tersebut bisa saja tidak turun. Sebelumnya, dalam proses pengajuannya pun tidak mudah, kita harus siap siap menjadi ping pong apabila kita belum cukup info untuk mengajukan surat tersebut.
Ini lah salah satu contoh kecil birokrasi yang ada diindonesia, bagaimana birokrasi terhadap lembaga yang lebih besar ya??
Dan untuk mengurangi rasa kecewa (limit tidak merasakan kecewa), adalah dengan mengurangi pengharapan kita terhadap kepercayaan kita pada suatu lembaga ataupun individu, serta meningkatkan ekspektasi kita terhadap realitas.
Lalu bagaimana dengan anda??
Baru saja saya membaca sebuah artikel tentang fenomena sekelompok orang yang biasa naik kereta dengan cara yang berbahaya. dari mulai menaiki lokomotif , berpegangan dan berdesakan di pinggir-pinggir lokomotif, berdesak desakan di pintu gerbong kereta api, sampai dengan yang menaiki lantai dua kereta alias atap kereta. dan begitulah fenomena kesesakan hiruk pikuk kereta ekonomi.
Artikel yang saya baca tersebut, mengingatkan pada sebuah kejadian di statsiun lempuyangan, sebuah statsiun yang terletak di kota Jogjakarta, dan hanya melayani kereta ekonomi.
Pada saat itu saya mengantarkan teman saya ke statsiun lempuyangan tersebut, ia akan naik kereta dengan jadwal keberangkatan pukul 21.00, namun kereta tersebut terlambat hingga pukul 24.00. saya dan temen saya sudah tiba di statsiun tersebut sejak pukul 18.00.
beberapa calon penumpang tampak kesal dengan kebijakan loket yang baru akan di buka pada pukul 21.00, sepertinya beberapa kelompok penumpang tesebut bernasib sama dengan teman saya. Sambil menunggu loket penjualan tiket di buka, saya dan teman saya memilih duduk di dalam statsiun, sambil sesekali memperhatikan prilaku para calon penumpang.
Saat itu mata saya terpaku pada seorang calon penumpang berkewarganegaraan asing, ia subuk hilir mudik, sesekali bertanya kepada petugas. Selang beberapa menit kemudian, satu kereta ekonomi tiba, kereta tersebut menuju Jakarta, saya lupa nama kereta tersebut.
Sekali lagi calon penumpang berkewarganegaraan asing tersebut terlihat bingung, hilir mudik dari ujung lokomotif ke ekor kereta kemudian kembali lagi. Dengan terburu-buru mencari petugas, sepertinya ia belum memiliki tiket, lalu salah satu petugas di sana mengantarnya ke loket penjualan tiket.
Dengan waktu yang semakin melimit, ia di arahkan oleh petugas untuk segera menaiki kereta tersebut yang sepertinya akan segera melaju.
Dan untuk kesekian kalinya penumpang berkewarganegaan asing tersebut, hilir mudik dari ujung lokomotif sampai ke ekor kereta dan kembali lagi ke herbong pertama. Kali ini bukan karena ia tidak punya tiket atau permasalahan lainnya yang menyebabkan ia tidak bisa naik kereta tersebut, tetapi karena ada sekelompok orang yang berdiam di pintu gerbong kereta, beberapa pintu tersebut di tutup dan penumpang di dalamnya memberi isarat bahwa ia tidak dapat masuk. Beberapa lainnya tetap diam di tempatnya dan tidak memberikan ruang untuk warga asing tersebut masuk.
Sampai akhirnya kereta tersebut mulai melaju, dan penumpang berkewarganegaraan asing tersebut masih berada di statsiun. Dengan langkah gontai ia meninggalkan statsiun dan berucap untuk dirinya sendiri, "i think indonesian is kind friendly, is really are?? i dont think so..".
saya dan temanku langsung terhenyak kaget, dan sedikit memikirkan apa yang baru saja ia katakan.
Sebuah kalimat yang membuat saya dan teman saya berfikir sendiri, apa yang ia katakan saat kesal memang tidak salah, bukan? tapi saya yang mendengar ia mengucapkan itu? ah ya.. saya juga warga negara indonesia.
so, apa yang kamu pikirkan?
masih ingat pelajaran kewarganegaraan yang dahulu bernama PPKN, pendidikan paancasila dan kewarganegaraan. Satu pelajaran yang mengajarkan bahwa orang indonesia adalah orang yang ramah, berkebudayaan baik dengan orang orang yang wellcome pada siapapun.
apakah ini adalah fenomena pergeseran kebudayaan indonesia? atau justru pelajaran kewarganegaraan yang kita dapatkan hanya sekedar tulisan yang kenyataannya tidak seperti yang di tuliskan??
dan menurutmu??
Teringat sebuah statement “Love is blind”, cinta itu buta. Sedikit saja kita bahas soal cinta kali ini, karena baru saja aku mendengar statement tersebut dari sebuah obrolan malam di kamar sebelah. Setujukah anda dengan statement cinta itu buta?.
Cinta itu kerap di katakana buta karena banyak kisah yang mungkin terjadi di luar logika kita. Kisah cinta Layla Majnun? Atau kisah cinta dari novel klasik shakespeare, dimana sebuah kisah cinta yang di bawa mati sang pemiliknya, Romeo and Juliet. Dan masih banyak lagi kisah cinta lainnya yang di tulis oleh para pemuja cinta.
Cinta adalah cinta yang dapat membuat mendung menjadi pelangi, cinta adalah cinta yang bisa mmbuat rasa pahit menjadi manis?. Cinta adalah cokelat, dimana kita bisa merasakan rasa pahit dan manis sekaligus?. Ah entahlah, terlalu banyak orang mendeskripsikan tentang cinta, dn semua merujuk pada “Love is Blind”.
Tapi bagaimana cinta itu buta? Sedangkan cinta itu sendiri dapat melihat semua yang kau cintai. Bagaimana cinta itu buta? Sedangkan cinta itu sendiri dapat menunjukkan padamu rasa pahit dan manis sekaligus?.
Cinta dapat menerima sebuah kekurangan menjadi suatu kelebihan cintanya. Cinta dapat menyatukan kelebihan dan kekurangan menjadi sesuatu yang saling mengisi. Cinta lebih sering memberi daripada menerima. Dari sinilah cinta selalu di katakan buta. Tapi sesungguhnya cinta itu tak pernah buta, cinta dapat melihat dengan sebaik baiknya. Namun cinta tak pernah melihat dengan matanya, cinta melihat dengan mata hatinya, yang menjadikan statement-statement di atas menjadi mungkin dan rasional.
Terlalu gombalkah itu? kembali pada kita yang mengartikan arti cinta itu sendiri. Karena cinta, sebuah kata yang mempunyai definisi berbeda bagi setiap individunya. Karena cinta, sebuah kata yang mempunyai definisi berbeda di setiap detiknya.
Seorang teman mengirimkan pesan singkat yang berbunyi:
“Orang baik itu bukanlah orang yang tidak pernah salah. Tapi orang baik itu adalah orang yang selalu memperbaiki kesalahannya. Dan orang yang lebih buruk adalah orang yang tidak menyadari kesalahannya, melainkan hanya menyalahkan oranglain.”
Apa yang terlintas di benakmu setelah membacanya? Setujukah kalian dengan statement tersebut? atau kalian mempunyai statement sendiri tentang definisi dan makna dari pesan singkat tersebut?.
Pesan singat tersebut sedikit membuat pikiran saya flashback dan memikirkan sedikit pertanyaan dalam diri saya? Sudah kah kita menjadi orang yang baik, yang selalu memperbaiki kesalahannya dan mungkin belajar dari kesalahannya?.
Terlepas dari itu, tanpa disadari atau tidak, ketika kita merasa sakit hati, kita lebih sering disibukkan dengan satu kegiatan, yaitu menyalahkan orang lain yang terlihat buruk dalam sudut pandangmu.
Pertanyaannya, mengapa kita sering membuang waktu dengan terus menyalahkan oranglain? Tak ada waktu untuk menyalahkan oranglain bukan?, jika dirimu di sibukkan oleh hal-hal positif. Seperti berusaha kenali dirimu sendiri, kenali kesalahanmu dan belajar dari sana.
Mungkin kebanyakan orang, ketika ia sedang merasakan sakit hati ia hanya terperangkap pada rasa sakitnya saja, dan terlalu takut menelan rasa pahit dari obat yang seharusnya ia minum untuk sembuh dari rasa sakitnya.
Rasa takut terhadap obatitu lah yang memaksa dirinya terperangkap dalam labirin sakit hati dan lebih memilih terus menyalahkan orang lain dan sedikit melupakan kesalahannya.
Keluar dari labirin itu mudah, asalkan ada kemauan. Mari kita berlomba lomba menjadi individu yang lebih baik mulai dari sekarang.
sejenak ingin pergi dari tanah yang gersang tanpa air, tanpa tumbuhan penyejuk, dan kini aku melewati tempat yang indah, putih, salju dan es berada dimana-mana menghiasi dataran.
sejenak aku berfikir “sepertinya ini adalah tempat yang sangat jauh berbeda dari tempat yang sebelumnya, berbeda dengan tempat yang gersang itu. Sesaat aku hanya menatapnya, namun jari-jari kecilku tak kuasa untuk menyentuhnya. menyentuh sebuah balok es dari dataran putih itu.
“Tuhan.. ternyata rasanya sangat dingin.” aku tak tahu apa dataran putih ini lebih baik dari dataran gersang itu.
namun semakin lama tangan-tanganku menyentuhnya semakin dingin rasanya, perlahan rasa sakit merasuk sampai ke tulang.
Tanpa aku lepaskan jari-jariku pada bongkahan es pada dataran putih itu, aku kembali menatapnya lekat. seperti sebuah jawaban aku melihat semua bayang itu tanpa balok es itu melihat bayangku. bayang yang sepenuhnya adalah udara yang tak akan pernah terlepas dari bongkahan es itu.
dan aku pun teringat, aku pernah menyentuh bongkahan es dari dataran putih, walau aku tahu itu bukan bongkahan es yang sama. dan aku tahu pasti jika rasanya hanya dingin, semakin lama kusentuh semakin sakit rasanya, semakin merubah warna kulitku menjadi biru. tapi entah mengapa? aku menyentuh lagi bongkahan es itu, dan sekali lagi aku tak sedikitpun melepaskan tangan-tanganku darinya.
air mataku menetes, menahan sakit dari dingin yang ku rasa. sesaat aku berfikir ingin mencairkan bongkahan es itu hingga ia dapat bersentuhan dengan udaranya secara langsung, dan menghasilkan horison yang membuat semua mata tak hentinya memandang, tak hentinya semua bibir berdecak dan mengucapkan kalimat Subhanallah.
Namun aku tak mampu ya Allah, aku tak mampu melakukannya. mencairkan bongkahan es itu, berarti aku tak akan pernah menemukannya lagi, dan aku tak akan pernah menyentuhnya lagi.
dan aku putuskan untuk menutup mataku, dan membiarkan terus rasa dingin menyebarkan sakit yang mungkin nantinya akan membuat aku mati rasa dan tak akan membuat aku merasakan apa-apa lagi.