Malam ini, sepulang saya dari
tabligh akbar dengan tema Muhammad al-fatih, saya merasa begitu iri. Rasa iri
saya kepada tokoh-tokoh besar islam semakin menjadi. Bayangkan, rata-rata, beliau-beliau
telah hafal al-quran dari kecil. Beliau-beliau telah diperdengarkan sejarah
islam, perjuangan-perjuangan, kebesaran-kebesaran islam, semangat-semangat
islam sejak dini, sejak dimulainya diperdengarkan dongeng sebelum tidur. Inilah
yang menjadikan beliau-beliau selalu berusaha memantaskan diri untuk menjadi
seseorang yang selalu berada di jalan Allah swt. Dan selalu berusaha untuk
memberikan yang terbaik untuk agamanya, Islam.
Lalu lihatlah diri ini, berapa tahun
kita hidup? apa yang sudah kita berikan untuk agama kita? untuk islam? atau
pertanyakan dahulu diri ini, sudah maksimalkah kita untuk memantaskan diri
menjadi pejuang-pejuang yang selalu berada di jalan Allah?
Dan detik ini seketika saya malu,
saya merasa waktu telah terbuang sia-sia.
Berkah-kah waktu yang kita
pergunakan selama ini? kemana saja kita selama ini? apa yang menyibukkan kita?
hati ini masih tertunduk malu.
Malam ini, dengan adanya perasaan
penyesalan dalam diri ini tentang waktu yang terbuang, tentang niat dan
kesungguhan yang dipertanyakan, tentang keinginan mencari ilmu yang tak
maksimal, dan tentang konstribusi kita pada islam yang ternyata bukan apa-apa. Inilah
curahan hati dan harapan untuk mereka didepan sana yang akan lahir dari
rahimku, yang mungkin akan ku-kecewakan.
Kepada anakku
kelak,
Maafkan aku, karena aku bukanlah
seseorang yang pandai mendidikmu, tapi mengertilah bahwa sesungguhnya aku ingin
engkau selalu berada di jalan yang selalu Allah Ridhai.
Maafkanlah aku, karena aku
bukanlah seseorang yang cerdas, tapi mengertilah bahwa aku ingin engkau
memiliki pengetahuan yang luas, hingga engkau dapat mengajarkan nilai-nilai
agamamu, pengetahuanmu pada cucuku kelak.
Maafkan aku, karena aku hanyalah
seseorang dengan pengetahuan sejarah yang sedikit, tapi mengertilah, aku ingin
memperdengarkan dirimu cerita-cerita perjuangan islam, cerita
kebesaran-kebesaran islam, sejarah-sejarah islam, sehingga keyakinanmu, semangatmu
di dan menuju jalan Allah telah berkobar sejak dini.
Maafkanlah aku, karena aku hanya
seseorang yang tak pendai menghafal Al-Quran, tapi mengertilah bahwa aku ingin
engkau dapat mengahafal Al-Quran dengan baik. Sehingga engkau tak akan pernah
lupa apa-apa yang tertulis didalamnya, senantiasa takut setakut takutnya pada
azab Allah, patuh sepatuh patuhnya ada perintah Allah.
Maafkanlah aku, karena aku hanya
seseorang yang tak pandai memberikan contoh yang baik bagimu, tapi mengertilah
aku ingin engkau menjadi seseorang yang tak pernah lupa mendirikan sunnah,
hingga engaku selalu merasa dekat dengan Allah.
Maafkanlah aku, karena aku hanya
perempuan yang biasa, tapi mengertilah aku ingin engkau selalu istiqomah di
jalan Allah, selalu istiqamah untuk terus mendekatkan diripada Allah, selalu istiqamah untuk berjuang
demi Agamamu, selalu istiqamah di jalan dakwah, mempunyai jiwa pemimpin yang
memimpin dengan hatinya, berjiwa besar, penyabar, penyayang, bertanggung jawab,
shalih/shalihah, hingga engkau dapat berkontribusi maksimal untuk agamamu.
Tak ada kata terlambat untuk
belajar, tak ada kata menyerah untuk pejuang, tak ada kata tidak mungkin untuk
engkau yang berkeyakinan.
Aku menulis ini karena tergelitik
dengan obrolan temanku tadi malam. Mereka saling bertukar cerita tentang
cita-cita dan apa yang ingin mereka lakukan nanti setelah lulus. Apa yang
mereka lakukan nanti? Bagaimana mereka nanti? Dengan siapa mereka nanti? Apa
yang mereka siapkan dengannya nanti? dan masih banyak lagi.
Kebanyakan mereka ingin sekolah
magister lagi, mencari penghidupan yang layak, Menikah, lalu memiliki pembantu
yang banyak untuk mengurus rumah, serta baby sitter yang tugasnya menjaga
anak-anak saat mereka kerja, kalau bisa anak dan baby sitternya ikut saat
mereka mengejar karir, dan masih banyak cita-cita mereka yang begitu tinggi.
Layaknya mereka, akupun memiliki
cita-cita yang ingin aku raih. Mengikuti program magister di salah satu
perguruan tinggi ternama di Bandung. Bekerja di BNPP, atau di perusahan besar
untuk beberapa tahun, menjadi salah satu dosen di perguruan tinggi negeri atau
swasta ternama di Bandung, membuka lapangan pekerjaan sendiri, wirausaha,
dengan berniaga misalnya, karena Allah telah menjanjikan dengan berniaga Allah
akan membukakan sembilan pintu rizki.
Tapi cita-cita terbesarku adalah
menjadi isteri yang shalihah. Dimana Imamku kelak akan ridha terhadapku,
terhadap apa yang aku kerjakan. Aku ingin menjadi isteri yang berbakti,
mengabdi dengan seluruh hati, jiwa, dan hidupku padanya. Ingin menjadi penyejuk
disaat hati imamku gundah. Ingin menjadi pengingat disaat imamku lupa. Ingin
menjadi penyemangat dan motivator yang baik ketika semangatnya mulai turun.
Ingin menjadi pendengar dan sandaran yang kuat disaat imamku berkeluh kesah. Ingin
menjadi seseorang yang selalu membutuhkannya, yang selalu dididiknya,
diajarinya dan dimanjanya. Ingin menjadi sahabatnya yang selalu setia menemaninya
disaat semua orang didunia ini pergi meninggalkannya.
Ingin menjadi ibu yang Shalihah,
yang baik, yang kelak dapat mendidik anak-anakku menjadi anak yang shalih dan
shalihah, mendidik mereka menjadi anak yang berbakti, anak-anak yang selalu
memegang panji-panji islam dan selalu berada dijalanMu, di jalan dakwah.
Sehingga mereka kelak menjadi salah satu jalan bagi Imamku menuju surgaMu.
Hanya itu yang menjadi cita-cita
terbesarku. Aku tidak perlu bermewah-mewahan, aku hanya perlu cukup. Aku tidak
perlu banyak orang yang membantu di rumah, cukup semoga Allah menguatkan fisik
ini untuk aku sendiri yang menghandlenya. Aku tidak perlu baby sitter, cukup
semoga Allah melapangkan hati dan pengetahuan ini, untuk aku mejadi sekolah
pertama bagi anak-anakku. Aku tidak perlu karir yang melonjak naik, cukup
semoga Allah melapangkan rizkiku dan waktuku dari jalan manapun (entah aku
harus berkarir atau berwirausaha), sehingga aku dapat mengurus keluargaku
sendiri, mengurus rumah tanggaku sendiri.
“Cita-Cita terbesarmu sesimple itu
git?” tanya mereka keheranan. Ya, cita-cita terbesarku hanya sesimple itu.
Apakah kita sering
mengatakan dan mengakui diri ini telah baik, sehingga kita dengan mudahnya
mengatakan orang lain yang sedang melakukan kesalahannya adalah orang yang
layak masuk neraka? dan seketika menjauhinya karena tidak ingin dekat dengan
ahli neraka?
Siapakah diri kita
ini dihadapan Allah sehingga kita men-judge seseorang karena suatu
kesalahannya, yang seharusnya menjadi hak Allah?
Siapakah diri kita
ketika kita merasa diri ini berhak untuk menghukum seseorang karena
kesalahannya, yang seharusnya itu juga menjadi hak Allah?
Kita hanya manusia
yang seharusnya menjadi seseorang yang baik, secara vertikal dan horizontal.
Kita hanya manusia yang seharusnya hanya tunduk dan patuh sepatuh patuhnya
terhadap apa yang Allah perintahkan dan Allah larang, seharusnya kita hanya
menjaga semua yang ada pada diri kita untuk tetap di jalanNya, karena semua ini
hanya amanah, hanya titipannya.
Dan seharusnya
kita menjadi orang yang baik, bukan meninggalkan saudara kita dalam kesalahan
bukan menghinanya, tapi mengajaknya, tapi bersamanya berharap kebaikan-kebaikan
kecil kita dapat menginspirasinya. Berharap ia menjadi lebih baik karena kita.
Karena betapa
sayangnya Allah pada kita ketika kita mengajak Saudara kita bersama-sama
menjadi lebih baik. Karena Allah maha membolak balikan hati, malukah kita
ketika orang yang kalian hina menjadi seseorang yang jauh lebih baik daripada
kita, dan Allah lebih menyayangi ia karena Taubatnya. Malukah kita dihadapan
Allah?
Mungkin kita akan mengatakan bahagia.. mungkin kita akan mengatakan sedih dan sendu. Ya.. karena hujan memiliki dua sisi yang berbeda Kebahagian dan Kesedihan. Ketika kita telah merasakannya dan memaksakan diri menikmati kedatangannya dalam bingkai jendeamu, kita harus siap mengalam dua kemungkinan tersebut. Entah kita akan mengatakan, "hujan membawa kita pada ketenangan, rasanya kita bahagia merasakannya", atau kita akan mengatakan, "Hujan itu sendu".
Begitu juga cinta. Cinta selalu memiliki dua sisi yang berbeda, Kebahagiaan dan kesedihan. Ketika kita Jatuh cinta, bersiaplah untuk mengambil resiko tersebut. Kebahagiaan atau Kesedihan...
Terusik dari tulisan teman yang bunyinya "If in the beginning, you're wrong, it will be always wrong till the end". Mengapa ketika awalnya salah, harus selalu salah sampai akhir? bagaimana menurut anda? apakah ada seseorang yang akan terus merelakan dirinya berbuat kesalahan?. Saya kira tidak.
Mungkin beberapa dari kita akan langsung berfikir pada sebuah kebohongan, ada yang bilang sekali berbohong akan terjadi kebohongan-kebohongan lainnya untuk menutupi kebohongan tersebut. Hal ini benar, namun untuk konteks satu masalah tersebut. Untuk masalah yang lain, tentunya seseorang akan belajar untuk memperbaiki kesalahannya dan tak mengulangi kebohongannya.
Atau dengan contoh yang lain, contoh yang sudah sangat klasik. Misalkan kita ingin memasak nasi, namun kita terlalu banyak menambahkan air kedalam berasa yang akan dimasak, dan akhirnya berasa tersebut akan menjadi bubur. Hal ini merupakan sebuah kesalahan, tapi bubur (product kesalahan tersebut) bukan akhir dari segalanya. Kita dituntut bagaimana menjadikan bubur tersebut enak dan nikmat untuk dikonsumsi, bukan untuk disia-siakan dan dibuang. Bagaimana menjadikannya lezat dan berbeda dari bubur lainnya.
Ya, karena apa-apa yang terjadi sudah diRidhai oleh Allah, apa-apa yang terjadi sudah memiliki tujuan, hikmah dan akibar dari kejadian tersebut, bbegitu juga dengan kesalahan. Kesalahan yang dilakukan , bukan hanya untuk kita sesali, tapi untuk kita pelajari, untuk kita berfikir bagaimana memperbaikinya, bagaimana kita tidak mengulanginya lagi. Begitu juga untuk orang disekitar kita, mungkin dengan kesalahan kita mereka belajar, terbentuk pola-pola pikiran yang nantinya akan mengantarkan mereka pada suatu kebaikan, dan lain-lain. Mungkin saja dengan kita melakukan kesalahan ibrahnya bukan hanya untuk diri kita tapi juga untuk orang-orang disekitar kita.
Think smart.. jangan pernah memandang suatu kesalahan sebagai kata "Salah" dengan mutlak. Allahualam bisawab.
Mungkin pernah kita bertanya pada diri kita, mengapa kita harus hidup di tempatkan di tempat kita berada sekarang? atau Mengapa kita harus mengalami nasib dan perjalanan hidup kita sekarang? atau Mengapa hidup kita didesain seperti ini?
Kadang kala kita sulit bersyukur dan ikhlas dengan apa yang telah digariskan di hidup kita, dan hanya orang yang beruntunglah yang dapat bersyukur disaat kesulitan itu hadir.
Coba kita ingat-ingat berapa pertanyaan tenteng hidup yang mengganjal di otak kita? mungkin ada yang mengaku, satu, dua tiga, atau bahkan banyak.
Tapi apakah kita tidak tahu bahwa setiap bagian kecil kehidupan ini sudah ada yang mengatur, sudah ada yang merancang kehidupan ini dengan teliti. Yuph, Allah telah merancangnya dengan baik, tanpa kita tahu itu baik untuk kita.
Kalian tahu tanaman belukar di tengah belantara hutan, semut di dalam lubang tanah paling dalam, dan mikroba yang hidup di sudut ruang paling tersembunyi pun kehidupannya sudah ada yang merancang. Apalagi manusia, manusia yang Allah jadikan sebagai khalifah dimuka bumi ini.
Dalam hidup ini ada yang namanya benang kehidupan. Di dalam kehidupan tidak ada yang sia-sia, bahkan hal kecil, entah kebaikan atau kejahatan kecil kita itu berpengaruh pada kehidupan orang lain tanpa kita sadari. Kehidupan kita akan berpengaruh pada kehidupan orang lain. kehidupan orang lain akan berpengaruh pada kehidupan orang lainnya, dan begitu seterusnya. Sehingga pada beberapa tingkatan akan kembali ke kehidupan kita.
Maka jangan pernah menyesali kita pernah menjalani hal-hal yang kita tidak sukai di tempat yang mungkin kita tidak sukai pula. Karena mungkin ini adalah suatu sebab untuk merubah kehidupan seseorang atau bahkan kehidupan kita kedepannya. Jangan pernah disesali atau pula jangan pernah di pertanyakan, namun disyukuri.
Tahukah kalian bahwa ada seorang tua yang hidup digurun, ia menyesali hidupnya yang hanya sendirian di gurun, hingga akhirnya ia meninggal di dekat oasis gurun tersebut. Setelah beliau meninggal ada rombongan yang lewat tepat di oasis dimana seorang tua tersebut meninggal. Namun dari romongan tersebut hanya satu yang mau menolong dan menguburkanorang tua tersebut. Setelah melanjutkan perjalanan, ternyata hanya satu rombongan tersebutlah yang selamat karena menolong seorang tua tersebut, sedangkan yang lain telah tewas dalam perang badui.
Dan tahukah, ternyata lima generasi kemudian dari seseorang yang baik hati tersebut akan lahir seorang Nabi terakhir, seorang pemuda yang di beri gelar Al-Amin.
Bagaimana jadinya apabila seseorang dari rombobgan tadi tidak ingin membantu menguburkan bapak tua tersebut, apa jadinya apabila seorang tua tersebut tidak pernah hidup dan meninggal di gurub itu? Allahualam..
“Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan, maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan. Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan, maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu. Dengan begitu, kau akan selalu pandai bersyukur.”
Dan….
“Begitulah kehidupan. Ada yang kita tahu, ada pula yang kita tidak tahu. Yakinlah, dengan ketidaktahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.” - Rembulan tenggelam di wajahmu-
Hidup adalah pilihah. satu buah kalimat yang ternyata memang benar, semua aspek kehidupan adalah pilihan. Maka pilihlah jalan hidupmu, lakukan, jalankan dan jangan pernah menengok kebelakang, menengoklah sesekali hanya sebagai pembelajaran.
Lalu hidup seperti apa yang kamu pilih? seorang pejuangkah atau seorang pecundang?
Saat ini yang saya mengerti seorang pejuang adalah seseorang yang berjuang untuk suatu hasil yang ingin dia raih, untuk suatu alasan yang baik ia berjuang. Namun seorang pejuang tak akan pernah ujub, haus pujian dan membanggakan hasil yang ia dapat, dan ia akan merasakan suatu energi ketika orang-orang disekitarnya tersenyum merasakan manfaat dari apa yang ia kaerjakan.
Dan seorang pecundang adalah orang yang hanya ingin keuntungan untuk dirinya sendiri. Merasa paling besar, mencari jalan pintas demi tujuan yang ia tuju, setelah itu berbangga diri haus akan pujian dan pengakuan atas hasilnya.
Lalu dimana pejuang sekarang?
Hidup disia-siakan, Mati di sayangkan. sebuah kalimat yang sepertinya tepat untuk para pejuang-pejuang yang pernah ada dari dahulu hingga sekarang. Laku kita hanya dapat berdiam diri tanpa gerakan, hanya sebuah bongkahan hati nurani yang terus berteriak tapi tetap terbungkam.
Jika kau merasa besar, coba periksakan hatimu, mungkin ia sedang mengalami kebengkakan.
Jika kau merasa suci, periksa jiwamu yang berwarna putih, mungkin warna putih itu berasal dari nanah, nanah dari sebuah luka nurani.
Jika kau merasa benar, lihat hatimu segelap apakah dia? hingga kau tak bisa melihat bayangan dari cahaya berbeda, mungkin dia butuh penerangan
Jika kau merasa berjasa, lihat jiwamu sudah sekeras apakah saat ini, sehingga tak lagi dapat terketuk.
Seharusnya kita dapat terus merenungi tujuan-tujuan kita. Karena disayangkan jika tujuan kita hanya sebuah pengakuan, karena kita tidak akan mendapatkan apa-apa setelah itu.
Semangat untuk terus perbaiki diri.. :)
Mungkin kita sudah pernah dengar tentang pidato Steve Jobs tersebut beberapa tahun yang lalu, namun saya kembali tergelitik dan mencari versi lengkapnya. Sampai suatu ketika salah satu dosen saya pun bercerita tentang pidato tersebut di kelas.
Dalam acara wisuda Universitas Stanford tahun 2005, Steve Jobs memberikan pidato Inspiratif. Steve Jobs, pendiri Apple yang legendaris itu mengemukakan mengenai 3 hal, yaitu “Connecting the Dots”, “Love and Loss”, dan “Death”.
Berikut adalah petikan pidati steve jobs yang saya ambil dari beberapa sumber.
Connecting the Dots
Dalam Connecting dots steve mengemukakan tentang kisah kelahirannya dan proses dia diadopsi sejak lahir oleh sebuah keluarga yang menyekolahkannya hingga sampai perguruan tinggi dengan biaya yang menghabiskan seluruh tabungan orangtua asuhnya tersebut. Namun, Steve Jobs hanya bertahan dibangku kuliah selama enam bulan. Beliau tidak dapat menerima perkuliahan, yang menurutnya belum tentu bisa membantu hidupnya, tapi menghabiskan tabungan orangtuanya. Sampai akhirnya beliau hidup menggelandang, menjual botol coke dengan uang 5 sen, hanya untuk membeli makanan.
Tapi sebelum dropout, beliau mengikuti kuliah tentang Typografi; belajar tentang perbedaan berbagai huruf yang indah dan bagaimana membuatnya. Walaupun pada saat itu tak terlihat manfaatnya secara nyata, pelajaran Typografi itu ternyata memberikan pengaruh besar ketika Steve Jobs merancang komputer Macintosh pertama bersama Steve Wozniak.
“..following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on”
“..mengikuti rasa ingin tahu dan intuisiku adalah jalan keluar tak ternilai di kemudian hari.”
“You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever.”
“Kamu tidak dapat menyambungkan tititk-titik dengan melihat masa depan, kamu hanya bisa mnyambungkannya dengan melihat masa lalu. jadi, kamu harus percaya, entah bagaimana titik-titik itu akan menghubungkan kamu dengan masa depan. Kamu hanya perlu percaya --- usaha, takdir, kehidupan, karma, atau apapun.”
Love and Loss
Love and Loss yang disampaikan Steve Jobs adalah mengenai apa yang beliau alami dan rasakan ketika ditendang dari puncak kekuasaan Apple, padahal dialah pendiri Apple. Pada awalnya beliau mengalami guncangan, namun momen itu ternyata sekarang disyukurinya. Yang membuatnya bertahan dan kemudian dapat bangkit adalah kecintaannya yang tak pudar pada apa-apa yang dilakukannya. Itulah yang membuatnya mendirikan NeXT dan Pixar.
Bahkan, beliau mengatakan bahwa dikeluarkan dari Apple adalah hal terbaik yang dialaminya, yang membawanya pada masa-masa paling kreatif dalam hidupnya.
“I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.”
“Saya telah dikeluarkan, tetapii saya tetap pada kecintaan saya. Dan saya memutuskan untuk memulai lagi.”
“Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith.”
“Kadang-kadang hidup membenturkan kepalamu. Jangan kehilangan keyakinan.”
“The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.”
“Beban keberhasilan akan tergantikan dengan keringanan saat menjadi pemula, kurang lebih tentang segalanya. Ini membebaskan saya untuk masuk kepada satu periode paling kreatif dalam didup saya.”
“I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.”
“Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Dan itu kesungguhan untuk pekerjaan Anda karena Anda bekerja untuk apa yang anda cintai. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan satu-satunya cara untuk benar-benar puas adalah melakukan apa yang Anda pilih adalah pekerjaan luar biasa. Dan satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan yang luar biasa adalah mencintai apa yang Anda lakukan. Jika Anda memiliki belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan merasa puas. Semua tentang hati, Anda akan tahu bila Anda telah menemukannya. Semuanya akan berangsur angsur lebih baik dan lebih baik layaknya tahun yang berganti. Jadi, teruslah mencari sampai Anda menemukannya. Jangan pernah merasa puas.
Death
Satu hal luar biasa dari Steve Jobs adalah kebiasaannya bertanya setiap hari di depan cermin “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?” Pertanyaan itu telah mendorongnya menjalani hidup yang berharga. Apalagi, ketika dia mendapat vonis dokter hanya bisa hidup beberapa bulan lagi karena kanker pankreas yang dideritanya.
“If you live each day as if it was your last, someday you’ll most certainly be right.”
“Apabila di setiap hari anda menganggap itu adalah hari terakhir anda, suatu saat anda pasti akan menemukan sesuatu yang benar.”
“Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure – these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.”
"Mengingat bahwa saya akan segera meninggal adalah alat yang paling penting yang pernah saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar dalam hidup. Karena hampir segala sesuatu - semua kenyataan, kebanggaan, takut malu atau gagal - hal-hal ini tidak bermanfaat lagi saat menghadapi kematian, hanya meninggalkan apa yang benar-benar penting. Mengingat bahwa Anda akan mati adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari perangkap pikiran Anda kehilangan sesuatu. Anda selalu tak punya apa-apa. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda. "
“No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it.”
"Tidak ada yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun kematian adalah tujuan kita semua. Tidak ada yang bisa mengelak. "
“Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away.”
"Kematian seperti satu satunya penemuan terbaik dari kehidupan. Ini adalah agen perubah Kehidupan. Menghilangkan yang lama untuk membuat jalan bagi yang baru. Sekarang yang baru adalah Anda, tapi suatu hari tidak terlalu lama dari sekarang, Anda secara bertahap akan menjadi tua dan harus dibersihkan juga. "
“Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.”
"Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma - yaitu hidup dengan hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan kebisingan pendapat orang lain menenggelamkan suara hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda. Entah bagaimana mereka sudah tahu apa yang Anda benar-benar ingin menjadi. Segala sesuatu yang lain adalah sekunder. "
Dari hal hal yang disampaikan beliau, semoga bisa menjadi bahan renungan buat kita.
Berikut versi videonya yang beredar di youtube, semoga bermanfaat.. :)
Dapat membedakan mana masalah pribadi, dan mana yang masalah organisasi ataupun pribadi, serta dapat menempatkan diri dengan baik.
Berusaha memberikan yang terbaik terhadap komitmen yang sudah di ambil, serta dapat meminimalisir distorsi yang muncul.
Dua poin diatas, adalah dua poin yang mungkin akan cepat di ucapkan ketika ditanyakan “Sebutkan contoh sikap profesional /profesionalisme?”. Lalu sebenarnya apa itu profesionalisme? “Profesionalisme” adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya.
Teringat sebuah kejadian pada saat rapat kecil sebuah organisasi di salah satu jurusan kampus terkenal. Seperti layaknya rapat, maka didalamnya akan terlontar saran atau masukan, kritik, tukar pendapat dan sebagainya. Anehnya dalam rapat ini, lebih dapat dikatakan debat kusir, dikarena adanya pihak yang sangat menolak kritik dan saran. Dalam kesempatan lain, pihak – pihak terkait bertemu, dan ternyata masalah dalam rapat dibawa keluar area, dan begitu juga dengan masalah di luar dibawa dalam rapat.
Tidak hanya kejanggalan tersebut, pihak yang tak dapat menerima saran dan kritik ini merupakan seorang yang dikandidatkan sebagai ketua. Berbagai alasan dan kata kata, dari mulai yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal dikemukakan untuk melindungi dirinya dan ambisinya menjadi ketua. Menolak semua masukan, untuk membuka jalan demi lancarnya ambisi dirinya sendiri.
Bagaimana seorang yang tidak open mind, dapat menjalankan sebuah organisasi dengan banyak anggota, banyak ide dan kepala didalamnya? Memimpin itu sulit, karena pemimpin sesungguhnya tidak pernah menggunakan telunjuknya tapi menggunakan hatinya. Sebuah statement yang tidak salah bukan?
Banyak hal baru di luar yang harusnya dapat kita pelajari dan kita ambil manfaatnya. Open Mind bukan berarti serta merta mengadopsi suatu informasi dari luar secara langsung, tapi tetap kritis, dengan menyerap informasi tersebut, kemudian mempelajari, menelaah, membandingkan, kemudian menginterpretasikan, sehingga nilai positifnya dapat dipergunakan untuk kemajuan dirinya sendiri dan orang banyak.
Kedua sifat diatas, Profesionalisme dan Openmind, hanya segelintir sifat dari sekian banyak sifat positif yang akan mengajarkan hal positif, serta membawa kita pada arah yang lebih baik lagi. Dan kedua sifat itu adalah dasar sifat yang diperlukan oleh seorang pemimpin.
Jika tidak di mulai dari diri sendiri, bagaimana dapat membawa orang lain, apa lagi sebuah Organisasi?
Penyesalan selalu datang terlambat, selalu datang terakhir. hal ini memang tidak dapat kita hindari. Dan kita selalu berpikir, kenapa semuanya harus terlambat, kenapa tidak di pikirkan dulu sebelum melakukan sesuatu, kenapa tidak seperti ini tapi malah seperti itu, dan berbagai macam pikiran lainnya yang sangatlah membuat kita menyesal, dan terus menerus menyesali keadaan.
Mengapa penyesalan selalu berada di akhir? Mungkin jika ia tidak berada di akhir, ia bukan bernama penyesalan namun pertimbangan. tau jika ia berada di depan, ia akan bernama Rencana. Dan mungkin seharusnya kita tidak pernah merasa menyesal yang sangat berlarut-larut, karena sesal adalah bentuk awal dari sikap yang akan mengantarkanmu menuju perubahan yang lebih baik.
Karena sesal adalah bentuk awal dari sebuah proses belajar kita menuju tingkat yang lebih tinggi, layaknya kita menaiki anak tangga, dari anak tangga pertama dan menuju anak tangga yang lebih tinggi lagi.
Nobody is perfect. We made mistakes. Kita tidak bisa merubah apapun yang sudah terjadi. Kalau kata orang, nasi udah terlanjur jadi bubur, sekarang tugas kita gimana caranya bubur itu menjadi makanan yang super enak. Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana merubah dan melakukan usaha yang kita bisa untuk membuktikan bahwa kita bisa bangkit dari semua penyesalan itu. Always remember that everything happens for a reason.
Bukankah sebenarnya semua komponen hidup terdiri dari kumpulan pilihan-pilihan yang memang harus kita pilih dengan sadar? atau dengan sendirinya langkah kita menuju sesuatu yang kita yakini.
Seandainya kita menemukan masalah, karena kesalahan kita, kita boleh saja menyesal namun ketika itu juga kita harus bangkit dan yang paling penting adalah bukan hanya menyesali kesalahan, tapi bagaimana mengatasinya, bagaimana kita beranjak dan memperbaiki kesalahan itu. Memang terdengar klise, tapi begitulah hidup. yang kita tahu hanya masa lalu sebagai guru, masa sekarang sebagai hari dimana kita berjuang, dan esok yang masih perjuangan untuk pencapaian cita citamu.
Kesempatan cuma datang satu kali, satu kalimat yang mungkin benar, tapi kesempatan untuk berbuat lebih baik lagi, lebih baik lagi, dan lebih baik lagi, selalu datang setiap detiknya. Memperbaiki yang telah hancur, bukan berarti hanya harus mengulangnya, tapi bisa juga dengan perbuatan yang lainnya. Seperti halnya membuat nasi yang telah menjadi bubur, dan kita membuat bubur spesial dari situ. Tapi bukan berarti kita menyianyiakan kesempatan, pergunakanlah kesempatan dengan sebaik baiknya.
A second chance is very tricky. If you want to prove you are worthy of it, then you have to prove it. Things can work out if you really learn from mistakes.
"Being stupid sometimes is better because we learn. Although we become weak but we realize what is right to do.."